Summarize the post with AI
Panji yang Tidak Boleh Menyentuh Tanah
Ketika musim haji tiba, Mus’ab memimpin rombongan besar — lebih dari 70 orang dari Madinah — untuk menemui Rasulullah di Aqabah. Para sahabat di Mekah menatap Mus’ab dengan mata berkaca-kaca. Di hadapan mereka berdiri sosok dengan jubah tua penuh tambalan, tulang pipi menonjol, dan kulit terbakar matahari. Tak ada lagi kasturi Yaman. Tak ada lagi sutra Hadramaut.
Rasulullah memandang duta terbaiknya dan berkata kepada para sahabat: “Lihatlah orang ini. Dahulu Allah menyinari hatinya dengan kenikmatan dunia, namun ia meninggalkannya demi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Mus’ab tersenyum. Ia melaporkan dengan suara mantap: “Ya Rasulullah, tidak ada satu rumah pun di Yatsrib kecuali Islam telah masuk ke dalamnya. Mereka rindu menantimu. Kota itu siap menyambutmu.”
Jalan hijrah telah terbuka lebar. Mus’ab bin Umair telah menyiapkan panggung sejarah bagi peristiwa terbesar dalam Islam: berdirinya negara Madinah.
Syahid di Uhud: Bendera yang Tak Pernah Jatuh
Di Perang Badr, Rasulullah memilih Mus’ab sebagai pembawa panji kaum Muhajirin — posisi paling mulia sekaligus paling berbahaya dalam tradisi peperangan Arab. Mus’ab memegangnya dengan tangan yang dulu hanya menyentuh sutra, kini menjadi tonggak kehormatan Islam.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.