Summarize the post with AI

Khunas membeku. Cintanya berubah menjadi kebencian yang dingin.

“Pergi. Aku bukan lagi ibumu. Bawa satu helai benang pun dari rumah ini jangan.”

Mus’ab melepaskan jubah sutranya. Melepaskan sandal mahalnya. Mengenakan pakaian paling kasar yang bisa ia temukan. Lalu melangkah keluar gerbang — bukan sebagai pangeran, melainkan sebagai seorang yang baru saja menemukan kekayaan sejatinya.

BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Duta Pertama Islam: Menaklukkan Hati Tanpa Pedang

Setelah melewati masa pengasingan di Habasyah (Ethiopia), Mus’ab kembali dan mendapat tugas yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ketika 12 orang dari Yatsrib menyatakan keislaman mereka di Bukit Aqabah dan memohon kepada Rasulullah untuk mengirimkan seorang guru, pilihan Rasulullah jatuh pada Mus’ab bin Umair.

Ia bukan membawa pasukan. Ia bukan membawa emas. Ia hanya membawa ayat-ayat Allah dan hatinya yang tulus.

Di Yatsrib — kota yang selama bertahun-tahun dirobek oleh perang saudara antara suku Aus dan Khazraj — Mus’ab memilih strategi yang berbeda dari cara-cara keras yang sudah dikenal penduduknya. Ia datang dari suku ke suku, duduk bersama mereka, dan melantunkan Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu dan penuh perasaan. Ia tidak menyerang kepercayaan mereka secara frontal — ia menyentuh nurani mereka.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________