Summarize the post with AI
Harga Sebuah Keyakinan
Rahasia keislaman Mus’ab tak bertahan lama. Utsman bin Thalhah, seorang tokoh Quraisy, menyaksikan secara langsung Mus’ab tengah bersujud di celah sebuah bukit yang sepi. Temuan itu segera sampai ke telinga Khunas binti Malik.
Badai pun pecah.
Khunas memerintahkan pengawal menyeret putranya pulang. Tidak ada lagi kelembutan seorang ibu. Yang ada hanyalah seorang ratu yang merasa dikhianati oleh pangerannya sendiri. Mus’ab diseret, dibelenggu, dan dipenjara di dalam rumahnya sendiri.
Namun dalam keheningan penjara itu — tanpa kasur bulu angsa, tanpa pelayan, tanpa wewangian — Mus’ab merasakan sesuatu yang tak pernah ia temukan di balik segala kemewahan: kebebasan jiwa yang sesungguhnya.
Ketika Khunas datang dengan ancaman akan menyiksa diri sendiri sampai mati demi membuat putranya kembali kepada agama nenek moyang, Mus’ab menjawab dengan suara lembut namun sekuat baja:
“Wahai Ibu, sungguh aku sangat menyayangimu. Namun demi Allah, seandainya Ibu memiliki seratus nyawa dan nyawa itu keluar satu per satu di hadapanku sebagai syarat agar aku meninggalkan agama ini, niscaya aku tak akan pernah meninggalkannya.”

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.