Summarize the post with AI
Sesampainya di sana, tak ada permadani sutra. Tak ada piala emas. Yang ada hanyalah kesederhanaan yang justru terasa menyejukkan. Ia melihat wajah-wajah yang dikenalnya — ada yang dari kalangan budak, ada pula dari bangsawan — duduk sejajar di atas tanah tanpa sekat kasta.
Dan di tengah lingkaran itu, duduklah sosok yang tengah menjadi buah bibir seluruh Mekah: Rasulullah SAW. Wajah beliau bersinar oleh cahaya kenabian.
Mus’ab yang terbiasa menilai orang dari harga pakaiannya, terpaku. Ia melihat kemuliaan yang tak bisa dibeli dengan dinar maupun dirham.
Ketika Rasulullah mulai melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, Mus’ab — seorang pemuda yang tumbuh dalam budaya yang memuja sastra dan kefasihan bahasa — menyadari bahwa apa yang ia dengar melampaui keindahan sastra Arab mana pun yang pernah ada. Kalimat-kalimat itu menghancurkan berhala-berhala di sudut terdalam hatinya.
Malam itu, di bawah atap sederhana Darul Arqam, Mus’ab bin Umair mengucapkan kalimat yang mengubah takdir hidupnya selamanya:
“Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.”

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.