Summarize the post with AI
Ketika para sahabat mencoba menutupinya, mereka mendapati kenyataan yang membuat hati siapa pun hancur: jika kain itu ditarik untuk menutupi wajah, kakinya terlihat. Jika ditarik untuk menutupi kaki, wajahnya terbuka.
Rasulullah SAW dengan menahan air mata bersabda: “Tutup kepalanya dengan kain, dan tutup kakinya dengan rumput idzkhir.”
Kemudian beliau membacakan firman Allah, Surat Al-Ahzab ayat 23 — sebagai persaksian abadi atas kesetiaan sang duta:
“Di antara orang-orang beriman ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah…”
Mus’ab bin Umair telah menepati janjinya.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Mus’ab tidak mewariskan istana. Ia tidak mewariskan emas. Ia tidak meninggalkan satu dirham pun.
Namun perhatikanlah: setiap kali azan berkumandang di Madinah hari ini, setiap kali dahi seorang Muslim menyentuh lantai Masjid Nabawi dalam sujud — pahala itu mengalir kepada Mus’ab. Karena dialah yang pertama kali membuka pintu kota itu bagi Islam. Dialah dai pertama. Dialah duta besar pertama. Dialah yang menyiapkan tanah bagi tegaknya peradaban.
Kisah Mus’ab bin Umair menampar kita dengan pertanyaan yang tak mudah dijawab: Apa yang sesungguhnya kita kejar dalam hidup ini? Kemewahan yang akan usang bersama waktu, ataukah jejak kebaikan yang abadi melampaui kematian?
Ia datang ke dunia sebagai pangeran yang dimanjakan. Ia meninggalkannya sebagai syahid yang papa. Namun di sisi Allah, ia adalah yang terkaya.
Semoga Allah meridhai Mus’ab bin Umair, dan semoga kita dapat meneladani setetes keteguhan imannya.
— Diolah dari berbagai sumber sejarah Islam

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.