Summarize the post with AI

Dugaan “Proyek Rukyat” yang Mubazir

Dalam kesempatan sama, peneliti yang pernah menjadi anggota Tim Hisab Rukyat pada 2024 ini mengungkap keheranannya terhadap praktek pengiriman ratusan perukyat ke seluruh Indonesia pada kondisi yang secara astronomi mustahil hilal terlihat.

“Pada 17 Februari lalu, konjungsi terjadi pukul 19.01 WIB—saat bulan sudah di bawah ufuk. Tidak mungkin terlihat. Namun Kementerian Agama tetap mengirim minimal 500-1.000 orang ke 100 lokasi. Ini pemborosan uang pajak rakyat yang seharusnya bisa untuk beasiswa atau pembangunan sekolah,” kritiknya tajam.

Ia menduga ada kepentingan tertentu yang menjadikan sidang isbat sebagai “proyek berkala” dengan anggaran miliaran rupiah, meski secara saintifik tidak diperlukan.

“Saya pernah angkat tangan dalam sidang isbat ketika masih dipimpin Menteri Yaqut. Saya bilang: ‘Pak Menteri, hilal memang tidak terlihat sekarang, tapi jam 12 malam nanti sudah tujuh kali lebih besar. Masa itu bukan hilal?’ Jawaban standar akan dipertimbangkan. Pertimbangan macam apa? Ini ilmu pokoknya—doktrin yang tidak mau diubah,” keluhnya.

Seruan kepada Generasi Muda

Menutup pemaparan, peneliti yang bukan berlatar belakang astronomi murni ini—spesialisasinya adalah remote sensing atau penginderaan jauh—mengajak generasi muda Muslim untuk lebih kritis.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________