Summarize the post with AI
Ia mencontohkan anomali menggelikan: seorang anak kandungnya di Amerika selalu melaksanakan ibadah 12 jam lebih dulu. Namun khusus di bulan Ramadan, justru terbalik—Indonesia tertinggal 12 jam.
“Bagaimana mungkin kita yang di timur, yang seharusnya 12 jam lebih cepat, malah jadi 12 jam lebih lambat dari orang Amerika dalam menentukan ibadah? Ini paradoks geografis yang memalukan,” ujarnya.
Teknologi GPS: Pembelajaran untuk Navigasi Hilal
Menganalogikan dengan sistem navigasi modern, pakar yang pernah belajar di Amerika ini mengingatkan investasi luar biasa negara-negara maju dalam membangun Global Navigation Satellite System (GNSS).
Amerika Serikat menggelontorkan 12 miliar dolar per tahun (setara Rp 180 triliun) selama 20 tahun (1973-1993) untuk membangun GPS. Biaya pemeliharaan tahunan pasca-1993 mencapai 1,8 miliar dolar, atau sekitar Rp 27 triliun. Total investasi selama 50 tahun mencapai hampir Rp 1.000 triliun—setara pembangunan dua IKN.
“Tujuannya sederhana: manusia tidak perlu lagi melihat bintang untuk bernavigasi. Siang atau malam, cuaca buruk atau cerah, navigasi tetap akurat. Mengapa umat Islam justru bersikeras harus melihat bulan untuk menentukan kalender? Ini kemunduran peradaban,” cetusnya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.