Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, Menjelang 1 Syawal, pemandangan yang hampir pasti terulang setiap tahun adalah membludaknya pengunjung di pusat-pusat perbelanjaan. Mal dan pasar tradisional berubah menjadi lautan manusia yang berburu pakaian baru untuk hari raya. Seolah ada “kewajiban sosial tak tertulis” yang mengharuskan setiap individu—tanpa terkecuali—mengenakan busana baru saat Idulfitri.
Tradisi ini telah mengakar begitu kuat dalam masyarakat Muslim, hingga sebagian orang merasa tidak “pantas” atau kurang percaya diri jika tidak mengenakan pakaian baru saat bersilaturahmi. Bahkan, tidak jarang fenomena ini memicu perilaku konsumtif yang melampaui batas kemampuan ekonomi, hanya demi memenuhi tuntutan sosial atau gengsi semata.
Apa yang Sebenarnya Dianjurkan dalam Islam?
Jika kita merujuk pada khazanah hadis dan literatur fiqih Islam, akan kita temukan bahwa esensi sejati perayaan Idulfitri bukanlah terletak pada seberapa mahal harga baju yang kita kenakan, melainkan pada penghormatan terhadap keagungan hari kemenangan tersebut.
Islam memang mengajarkan umatnya untuk berpenampilan rapi, bersih, dan harum ketika menghadiri shalat Id. Ini adalah bentuk syukur kepada Allah dan bagian dari pengagungan syiar-syiar-Nya. Rasulullah ﷺ sendiri memberikan keteladanan dalam hal berpakaian yang elok, namun tetap dalam koridor kesederhanaan dan tidak berlebihan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.