Summarize the post with AI
CENGKRAMAN KETAKUTAN
hal” yang kita rasakan sekarang memang tidak muncul secara tiba” dari kekosongan. Sebab setelah kita menelusuri sejarah panjang bangsa ini, ada satu pola yang berulang dan nyaris tidak pernah benar” hilang. Dan itu adalah kecurigaan terhadap oposisi. Ia seperti hantu politik yang terus bergentayangan dari masa kolonial, revolusi, orde otoriterianisme soeharto hingga reformasi. Setiap kali ada pihak yang mencoba berpikir berbeda, menantang arus atau mengajukan pertanyaan yang sulit, negara bahkan masyarakat sendiri seringkali memandangnya dengan rasa was”.
Pertanyaannya adalah mengapa bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan atas dasar kebebasan justru sering kali takut pada kebebasan itu sendiri. Sekali lagi pandangan Bang Zaenal dan M. Dahlan dalam bukunya Kronik Otoriterianisme Indonesia menyebut bahwa warisan terbesar dari otoritarianisme bukanlah kekerasan fisiknya melainkan warisan mentalitas ketakutan terhadap perbedaan. Ketakutan itu begitu dalam hingga terus membentuk cara berpikir politik bahkan pasca struktur kekuasaan berganti wajah.
untuk memahami mekanisme ketakutan itu, kita perlu membedahnya dari tiga sisi : Sosial, politik dan struktural. ketiganya berkelindan membentuk kesadaran nasional yang melihat oposisi bukan sebagai bagian dari demokrasi, melainkan sebagai potensi ancaman.
Dari sisi sosial kita bisa melihatnya dari sejarah pembentukan bangsa yang dimana gagasan persatuan menjadi mantra suci. Ia disebut dalam sumpah pemuda pada tahun 1928, yang kemudian ditegakkan kembali oleh sukarno dalam pidato 1 juni 1945 saat merumuskan pancasila. Namun, dibalik idealismenya gagasan ini perlahan berubah makna dari semangat solidaritas menjelma keseragaman yang menolak perbedaan.
Sejarawan Ong Hokhem di esainya berjudul Mitos Indonesia, ia menjelaskan bahwa akar dari obsesi terhadap kesatuan ini terletak pada ketakutan historis terhadap disintegrasi. Sejak masa kerajaan, wilayah nusantara sering dilanda perang saudara, perebutan tahta hingga perpecahan elit lokal. Maka ketika bangsa ini lahir, ia mewarisi trauma kolektif akan perpecahan. Sebuah trauma yang kemudian disublimasikan menjadi semboyan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Namun, seperti dijelaskan oleh Ben Anderson dalam bukunya Language and Power : Exploring Political Culture in Indonesia, bahwa cara masyarakat indonesia memaknai persatuan tidak terlepas dari budaya politik jawa yang menekankan harmoni dan hierarki. Dalam budaya ini, konflik dianggap tidak sopan dan perbedaan pandangan terhadap penguasa sering dipersepsikan sebagai bentuk pembangkangan moral. Akibatnya ketika demokrasi modern datang membawa logika debat dan oposisi, masyarakat tidak melihat sebagai hal wajar, melainkan ada yang tidak beres.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.