KERAK OPOSISI
Untuk memahami mengapa oposisi selalu dianggap berbahaya di indonesia, kita perlu kembali ke akar sejarah yang jauh lebih dalam daripada sekedar melihat era modern politik kita. Sebab akar masalah yang sedang kita bahas tumbuh dan berkembang dari warisan kolonialisme, yakni dari ketakutan dari disintegrasi dan narasi besar tentang persatuan nasional yang sejak awal berdiri di atas upaya menekan perbedaan. Sejak masa hindia belanda, kekuasaan kolonial sudah memelihara pola pikir bahwa segala bentuk pertentangan terhadap penguasa betapapun sahih dan rasional adalah ancaman bagi ketertiban umum.
Henk Schulte Nordholt di dalam bukunya berjudul Oward Apearances dressing state and society in indonesia, menyebutkan bahwa bagi pemerintah colonial, kekuasaan bukan sekedar soal menguasai tanah dan sumber daya melaingkan tentang menata hierarki sosial. Dari paradigma itu, maka segala bentuk pertentangan dianggap tidak hanya melanggar hukum, tapi juga mengganggu moral order yang mereka klaim sebagai dasar peradaban barat. Kita bisa melihat pola ini dalam banyak perlawanan rakyat di berbagai daerah. Dalam perang diponogoro yg di mulai dari tahun 1825 sampai 1830 misalnya perlawanan yang bermula dari konflik tanah dan simbol” keagamaan ini justru di potret belanda sebagai pemberontakan fanatik yang membahayakan keamanan negara.
Sementara dalam perang aceh yg di mulai tahun 1873 sampai tahun 1904 dimana rakyat aceh yang hanya ingin mempertahankan kedaulatan mereka di tafsikan sebagai ancaman terhadap ketertiban dunia modern.
Dua sejarah itu, punya bentuk yang sama yakni “ sejarah perlawanan”, oposisi terhadap kekuasaan selalu di justifikasi sebagai pemberontakan yang menganggu stabilitas. Ben Anderson dalam bukunya Java in a time of Revolution menuliskan bahwa kolonial belanda melalui kebijakannya sengaja menanamkan rasa takut terhadap perpecahan pada pribumi. Masyarakat diajarkan bahwa satu-satunya jaminan keamanan adalah kepatuhan terhadap pengurus negara. Dalam hal ini, Ben Anderson ingin mengatakan bahwa penjajah kolonial belanda tidak hanya menaklukkan pedang dan meriam, tapi juga pikiran. Inilah yang kemudian disebut oleh Ben Anderson sebagai The Psychology of Obediance atau Psikologi Kepatuhan yang terus di wariskan hingga masa indonesia merdeka.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.