Namun, saat memasuki wilayah udara Sulawesi Selatan dengan kontur pegunungan karst yang dikenal curam dan kerap diselimuti kabut tebal, situasi berubah drastis. Menjelang siang hari, komunikasi radio dengan pengatur lalu lintas udara terputus secara tiba-tiba. Tidak ada sinyal darurat yang diterima. Pesawat pun menghilang dari radar, memicu kekhawatiran mendalam.

Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan segera digerakkan. Tim yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, serta relawan diterjunkan ke medan yang nyaris tak bersahabat. Tebing curam, jurang dalam, hutan rapat, dan cuaca yang cepat berubah menjadi tantangan besar. Setiap langkah mengandung risiko, setiap tarikan napas diiringi doa.

Di tengah keterbatasan peralatan dan ancaman keselamatan, para personel SAR menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka bekerja siang dan malam, membuka jalur, mengangkut logistik, hingga melakukan evakuasi di medan ekstrem. Operasi ini tidak semata-mata menjalankan tugas, tetapi juga pengabdian terhadap kemanusiaan.

Peran masyarakat Sulawesi Selatan menjadi bagian tak terpisahkan dari misi ini. Warga setempat membuka rumah mereka untuk tim SAR, menyediakan makanan, menjadi penunjuk jalan, bahkan turut menyusuri hutan dan lereng gunung. Sekat-sekat perbedaan seakan lenyap, menyisakan satu tekad: saling membantu.

Serpihan demi serpihan pesawat akhirnya ditemukan, mengonfirmasi kekhawatiran terburuk. Pesawat ATR 42-500 diketahui menghantam lereng gunung dengan keras, menyebabkan badan pesawat hancur dan puing-puingnya tersebar di sekitar air terjun dan dasar jurang.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________