Summarize the post with AI
Waktu pun terus berjalan. Delapan belas tahun berlalu dalam ujian itu — delapan belas tahun yang berbanding dengan dua puluh tahun kenikmatan sebelumnya. Suatu hari ketika istrinya pergi meninggalkan beliau untuk sesaat, Nabi Ayub yang biasanya diurus sampai hal paling kecil pun kini sendirian. Bukan itu yang membuat beliau akhirnya memanjatkan doa. Bukan karena tak tahan. Melainkan karena adab seorang hamba yang luar biasa kepada Tuhannya.
Beliau tidak berteriak meminta dibebaskan. Tidak memprotes langit. Hanya dengan kelembutan yang menyentuh lubuk hati, beliau berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, sedangkan Engkau adalah Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”
Itulah doanya. Bukan tuntutan. Bukan keluhan yang meledak-ledak. Hanya sebuah pengakuan yang tenang: aku sedang menderita, dan Engkau Maha Tahu. Seolah beliau berkata dalam diam, “Jika Engkau mau menyembuhkan, sembuhkanlah. Jika belum, aku tetap di sini bersamamu, ya Allah.”
Allah pun menjawab doa yang penuh adab itu dengan cara yang tak kalah indahnya. Diperintahkan kepada Nabi Ayub untuk menghentakkan kakinya ke tanah, dan dari sana memancar mata air yang sejuk — air untuk mandi dan minum. Seketika itu juga, setelah beliau menyentuh air tersebut, seluruh penyakit yang bersarang belasan tahun di tubuhnya lenyap tanpa sisa. Bahkan lebih dari sekadar pulih — beliau tampil lebih tampan, lebih segar, lebih bercahaya dibanding dua puluh tahun silam sebelum ujian itu datang.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.