Summarize the post with AI
Ujian itu datang tidak setengah-setengah.
Dalam satu hari, seluruh harta benda Nabi Ayub lenyap tak berbekas. Peternakan dan perkebunannya habis dalam sekejap. Belum sempat hati berdamai, hari berikutnya musibah susulan menyapu bersih apa yang tersisa. Dan puncak dari segalanya, kedua belas putranya yang menjadi cahaya mata itu meninggal serentak ketika sebuah bangunan roboh menimpa mereka saat mereka sedang berkumpul. Belum usai duka itu mengendap, Allah menguji pula raga Nabi Ayub dengan penyakit kulit yang dahsyat — seluruh tubuh beliau menjadi medan bagi penyakit itu, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yang tersisa hanya lisan yang tak henti berzikir dan hati yang tetap terpaut kepada Allah.
Orang-orang pun mulai menjauhi beliau. Masyarakat yang dulu menghormatinya kini ngeri berdekatan. Teman-teman menghilang satu per satu. Hanya tiga sosok yang masih bertahan: sang istri yang setia, dan dua orang saudara yang sesekali masih datang menengok.
Rahmah, sang istri, menjadi pahlawan diam dalam episode panjang ini. Ia yang mengurus suaminya dalam kondisi paling berat, ia yang memandikan, ia yang menemani malam-malam panjang penuh penderitaan. Ketika kebutuhan akan makanan yang lebih layak mendesak, ia pun turun tangan bekerja — bahkan sempat menjadi pembantu di rumah-rumah orang yang dahulunya adalah jemaah dakwah suaminya sendiri. Tapi pintu itu pun ditutup, karena mereka khawatir tertular penyakit. Tak kehabisan akal, Rahmah akhirnya menjual rambutnya demi mendapatkan uang untuk membeli makanan yang lebih bergizi bagi suaminya.
Ketika Nabi Ayub mendapati makanan yang tak biasa itu dan bertanya dari mana asalnya, sang istri pun mengaku. Nabi Ayub membuka jilbab istrinya, dan tampaklah kepala yang kini tanpa rambut. Di saat itulah beliau bersumpah, dalam riwayat yang lain dipicu pula oleh kekecewaan saat istrinya mengizinkan seseorang yang ternyata jelmaan iblis untuk masuk dengan dalih membawa obat. Sumpah itu terucap: akan mencambuk istrinya sebanyak seratus kali.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.