Summarize the post with AI
Di sisi lain, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar lainnya, bersama dengan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama, akan menetapkan awal Syawal melalui mekanisme sidang isbat. Sidang yang bersifat resmi dan mengikat secara nasional ini diagendakan pada hari Kamis, 19 Maret 2026.
Keputusan sidang isbat akan didasarkan pada hasil pemantauan atau rukyatul hilal yang dilakukan di sejumlah lokasi pengamatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Metode rukyat mengandalkan pengamatan langsung terhadap penampakan bulan sabit pertama setelah bulan baru sebagai penanda masuknya bulan baru Hijriah.
Kemungkinan perbedaan tanggal perayaan Idul Fitri antara Muhammadiyah dan NU bukanlah hal baru dalam tradisi keislaman di Indonesia. Hal serupa telah terjadi beberapa kali di masa lalu dan telah menjadi bagian dari khazanah keberagaman pemahaman keagamaan di Nusantara.
Meskipun terdapat perbedaan dalam penetapan hari raya, para ulama dari berbagai ormas Islam menegaskan bahwa hal ini tidak mengurangi esensi dan kekhusyukan perayaan Idul Fitri. Lebaran tetap menjadi momen sakral untuk kembali kepada kesucian fitrah, mempererat tali persaudaraan sesama umat Islam, serta memperkokoh semangat toleransi dan kerukunan di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.
Para tokoh agama juga mengimbau umat Islam untuk tetap saling menghormati perbedaan yang ada dan menjadikannya sebagai wujud kekayaan khazanah Islam di Indonesia yang majemuk.
Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan informasi resmi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan antisipasi jadwal sidang isbat Kementerian Agama RI.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.