“Kami menggunakan pendekatan global, sedangkan pemerintah bersifat lokal. Maka tidak selalu ada kesamaan hasil,” jelasnya.

Menanggapi pertanyaan peserta tentang penggunaan wilayah seperti Selandia Baru sebagai referensi perhitungan, Maesyarah menjelaskan bahwa meskipun ijtimak adalah fenomena global, KHGT memperhitungkan lokasi pertama terjadinya fajar di bumi. Dalam kondisi tertentu, wilayah seperti Selandia Baru menjadi acuan karena fajar lebih dahulu terjadi di lokasi tersebut pasca-ijtimak.

Maesyarah menegaskan bahwa perbedaan penetapan bukanlah hal baru bagi Muhammadiyah. Sebelum KHGT diterapkan pun, organisasi ini telah beberapa kali berbeda pendapat dengan pemerintah dalam menentukan awal Ramadan dan hari raya.

Keunggulan metode hisab, lanjutnya, terletak pada kepastian waktu yang dapat diprediksi jauh ke depan. “Kalender hingga tahun 1450 Hijriah sudah dapat diakses saat ini berkat penggunaan metode hisab,” ungkapnya.

Sosialisasi Internasional

Sementara itu, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah lainnya, Arwin Juli Rakhmadi Butar-butar, memaparkan strategi internasionalisasi KHGT. Setelah konsep ini dirumuskan dan ditanfidzkan, tantangan besar berikutnya adalah membangun akseptansi global melalui dialog akademik dan jejaring internasional.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________