Summarize the post with AI
Munafri mengaku dilanda rasa malu ketika kondisi TPA Makassar dibandingkan dengan daerah lain. Ia bahkan menjadikan rasa malu dan harga diri sebagai modal utama untuk mendorong perubahan. Ia bertekad kondisi serupa tidak boleh terulang pada tahun mendatang dan memastikan TPA akan menjadi prioritas utama dengan alokasi anggaran yang telah ia instruksikan secara khusus.
Di sisi lain, Munafri juga menyoroti rendahnya kontribusi sejumlah instansi dalam pengelolaan kebersihan, mulai dari kawasan pasar, rumah sakit, hingga lingkungan pendidikan yang menjadi komponen penilaian Adipura namun belum dikelola secara optimal. Ia menekankan bahwa tanggung jawab ini tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak, melainkan harus menjadi gerakan lintas sektor yang masif dan berkesinambungan.
Dari aspek data, kondisi yang dipaparkan Munafri cukup mengkhawatirkan. Kapasitas angkut sampah Makassar baru menyentuh 67 persen dari total produksi sampah yang mencapai 800 ton per hari. Artinya, sekitar 30 persen sampah masih tercecer tanpa penanganan yang layak. Ironisnya, biaya pengelolaan sampah di Makassar tercatat melampaui satu juta rupiah per ton, namun hasilnya masih jauh dari memuaskan.
Munafri juga menyentil rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya. Ia mempertanyakan apakah sampah di kantor-kantor pemerintahan maupun di rumah tangga sudah benar-benar dipilah sebelum dibuang. Menurutnya, tanpa perubahan nyata dari akar paling dasar, seluruh program besar pemerintah hanya akan berjalan di tempat.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.