Summarize the post with AI

Di sisi lain, Ivan Taufik Nugraha sebagai peneliti di balik inovasi ini menjelaskan bahwa pakan probiotik yang dikembangkannya dirancang untuk menjawab tiga tantangan sekaligus: efisiensi konsumsi pakan, percepatan pertumbuhan bobot badan, serta peningkatan produksi dan kualitas telur. Dalam pengujiannya, bobot telur ayam yang diberi pakan formulasi tersebut mampu meningkat antara 20 hingga 30 persen dibanding pakan konvensional, sebuah angka yang cukup signifikan bagi skala usaha peternakan.

Ivan juga menggarisbawahi ancaman serius yang kerap menghantui peternak ayam, yakni penyakit koksidiosis. Penyakit yang disebabkan parasit usus ini mampu memicu diare parah dan kematian massal dalam satu kandang sekaligus menyebar dengan cepat ke ayam lainnya. Untuk menangkal ancaman tersebut, risetnya kini diarahkan pada pengembangan formulasi pakan berbasis antikoksi yang bekerja secara preventif menjaga kesehatan ayam sebelum penyakit sempat menyerang.

Lebih jauh, Ivan mengungkap rahasia di balik cara kerja probiotik dalam produknya. Selama ini, salah satu indikator yang kerap diabaikan peternak adalah bau menyengat yang menguar dari dalam kandang. Menurut Ivan, bau tersebut sejatinya adalah sinyal bahwa protein dalam pakan tidak terserap secara optimal oleh sistem pencernaan ayam. Dengan tambahan probiotik yang bekerja hingga ke tingkat vili usus, penyerapan nutrisi menjadi jauh lebih maksimal sehingga kandang pun menjadi lebih bersih dan tidak berbau menyengat.

Sinergi antara semangat riset IPB dan keberpihakan nyata pemerintah ini menjadi harapan baru bagi jutaan peternak ayam di Indonesia, terutama mereka yang selama ini bergulat dengan efisiensi pakan dan ancaman penyakit yang menekan produktivitas. Jika target terpenuhi, bukan tidak mungkin inovasi dari Bogor ini akan segera mendapat restu langsung dari Istana.



Follow Widget