Masjid Raya dan Tradisi Keilmuan

Masjid Raya Linxia merupakan masjid tertua dan terbesar di kota ini. Dibangun pada masa Dinasti Qing (1639–1911), masjid ini menjadi pusat pembelajaran Islam sejak abad ke-17, terutama setelah kunjungan ulama sufi Afaq Khoja dari Kashgar. Di kompleks masjid terdapat asrama dan ruang belajar bagi para penuntut ilmu, dengan puluhan santri yang menetap untuk mendalami ajaran Islam.

Di sekitar masjid, deretan toko suvenir, kerajinan tangan, dan kaligrafi Islam menjadi pemandangan umum. Hampir setiap rumah Muslim Hui di Linxia memiliki hiasan kaligrafi Arab di dindingnya—menjadi penanda kuatnya identitas religius dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya Hui dan Seni Ukir Batu

Budaya Hui di Linxia merupakan hasil percampuran panjang dengan budaya Han. Hal ini tercermin dalam seni, arsitektur, hingga kuliner. Restoran halal tersebar luas, dengan sertifikasi yang menjamin tidak digunakannya bahan non-halal seperti lemak babi.

Salah satu warisan budaya paling terkenal dari Linxia adalah seni ukir batu. Di kawasan kota tua, dinding-dinding rumah dihiasi pahatan batu dengan detail tiga dimensi yang hidup. Seni ukir ini diakui sebagai warisan budaya nasional China sejak 2006, memadukan teknik lukis dan pahatan untuk dekorasi bangunan seperti dinding, lorong, dan ambang pintu.

Menariknya, seni ukir batu Linxia juga menyebar hingga ke luar negeri, termasuk Indonesia. Para perajin China pernah mengajarkan teknik ini ke Jepara, Jawa Tengah—yang kini dikenal sebagai pusat seni ukir kayu terkenal di Indonesia.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________