PUNGGAWANEWS, Dalam sebuah ceramah yang disampaikan oleh Ustadz Khalid Basalamah pada tahun 2015, tergambar sosok luar biasa dari Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu anhu—seorang pemimpin yang menunjukkan ketegasan luar biasa dalam menegakkan kebenaran, namun sekaligus merendahkan diri di hadapan Allah.

Ketegasan dalam Menegakkan Hukum

Suatu ketika, terjadi perselisihan antara seorang Yahudi dengan seorang munafik yang mengingkari utangnya. Ketika sang munafik menolak membayar, mereka membawa perkara tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dengan bukti yang jelas, Nabi memutuskan bahwa si munafik harus membayar kewajibannya.

Namun si munafik tidak puas. Ia mencari keputusan dari Abu Bakar radhiallahu anhu, yang juga memberikan putusan serupa. Masih belum mau menerima, ia akhirnya mendatangi Umar bin Khattab.

Ketika Umar mendengar bahwa mereka sudah meminta keputusan kepada Rasulullah dan Abu Bakar namun masih datang kepadanya, beliau masuk ke rumah, mengambil pedang, lalu keluar. “Kalian telah berhukum kepada Rasulullah namun masih ragu? Datang kepada Abu Bakar namun masih ragu? Ini hukumku—pedang ini!” ujarnya dengan tegas.

Ketegasan ini bukan karena emosi, melainkan untuk mengajarkan bahwa dalam Islam, tidak ada ruang untuk bermain-main dengan keputusan yang telah ditetapkan berdasarkan hukum Allah.

Ujian Iman: Kisah Pendeta Yahudi

Dalam kisah lain yang mengharukan, seorang pendeta Yahudi terkemuka sengaja mencekik leher Nabi Muhammad di hadapan para sahabat. Ia menuntut pembayaran utang sebelum waktunya tiba, dengan cara yang sangat kasar.

Umar yang berada di barisan depan hampir tidak dapat menahan diri. “Ya Rasulullah, izinkan saya menebas lehernya!” serunya. Namun Nabi memberi isyarat agar ia tenang.

Dengan penuh kesabaran, Nabi bahkan memerintahkan Umar membayar utang tersebut ditambah denda dua puluh sak kurma sebagai ganti karena Umar telah menakut-nakuti sang Yahudi.

Setelah kejadian itu, pendeta Yahudi mengungkapkan maksudnya kepada Umar: “Semua tanda kenabian sudah kutemukan pada diri Muhammad—kecuali satu: kasih sayangnya mengalahkan amarahnya. Hari ini aku menyaksikannya sendiri.” Di hadapan Umar, ia pun mengucapkan syahadat dan memeluk Islam.

Kepedulian Seorang Raja di Tengah Malam

Kisah paling menyentuh adalah ketika Umar berkeliling kota Madinah di malam hari—tahun 23 Hijriah, sekitar tengah malam. Ia menemukan seorang musafir Badui yang istrinya sedang mengerang kesakitan hendak melahirkan, tanpa ada yang membantu.

Tanpa ragu, Umar pulang ke rumahnya dan membangunkan istrinya, Ummu Kalsum—cucu Rasulullah. “Maukah engkau mendapat pahala menolong seorang muslimah yang melahirkan?” tanyanya.

Sang istri langsung menyiapkan perlengkapan dan berjalan bersama suaminya—sang Khalifah—di kegelapan malam, tanpa pengawal, tanpa pemberitahuan, tanpa publisitas. Hanya dua orang: pemimpin kaum Muslim dan istrinya, berjalan untuk membantu orang asing yang tak dikenal.

Ketika proses persalinan selesai, Ummu Kalsum memanggil dari dalam kemah: “Amirul Mukminin, semuanya berjalan lancar!”

Mendengar gelar itu, sang Badui terkejut dan gemetar. “Apakah Anda Umar bin Khattab?” tanyanya ketakutan.

“Tenang saja,” jawab Umar. “Bayi yang baru lahir itu telah disentuh pertama kali oleh cucu Rasulullah.”

Si Badui menangis: “Maha Suci Allah yang telah memberiku pertolongan luar biasa malam ini. Aku duduk bersama raja kaum Muslim, istriku ditolong oleh ratu mereka, dan anakku disentuh pertama kali oleh cucu Nabi.”

Memasak di Tengah Malam untuk Anak-Anak Kelaparan

Kisah serupa terjadi ketika Umar menemukan seorang ibu dengan tiga anak yang menangis kelaparan. Di atas api, sang ibu memasak batu—hanya untuk menipu anak-anaknya agar mereka mengira makanan sedang dimasak. Sudah tiga hari mereka kelaparan.

“Amirul Mukminin tidak peduli pada kami,” keluh sang ibu, tidak tahu bahwa Umar sendiri yang berdiri di hadapannya.

Umar segera pergi ke Baitul Mal, mengambil karung gandum, dan memikulnya sendiri di bahunya—menolak tawaran temannya Ubay bin Ka’ab yang ingin membantunya. “Apakah kau ingin memikul dosaku di hari kiamat?” tanya Umar.

Setibanya di sana, Umar sendiri yang meniup-niup api yang hampir padam—percikan api membakar janggutnya yang putih. Ia mengaduk bubur hingga matang, lalu menyuapi ketiga anak itu sampai kenyang.

Sang ibu berkata: “Semoga Allah memberkatimu. Engkau lebih baik daripada Amirul Mukminin.”

Umar hanya tersenyum: “Jika suatu saat engkau bertemu Amirul Mukminin, engkau akan menemukanku di sana.”

Setelah pergi, Umar bersembunyi di balik semak-semak, mengawasi dari kejauhan sampai memastikan anak-anak itu tertidur dengan kenyang. Kemudian ia mengangkat kepala dan berdoa: “Segala puji bagi Allah yang menyelamatkanku dari banyak tuntutan di hari kiamat.”

Pelajaran tentang Tawadhu: Merendah di Hadapan Allah

Ketika Umar tiba di Baitul Maqdis (Yerusalem) untuk menerima kunci kota setelah kemenangan kaum Muslim, ia datang dengan cara yang sangat sederhana. Giliran perjalanan menuntut agar beliaulah yang berjalan kaki sementara pembantunya menunggang unta—dan demikianlah mereka tiba di gerbang kota.

Pendeta Kristen yang akan menyerahkan kunci heran: “Di mana rajamu?”

Para prajurit menunjuk pada Umar yang sedang memegang tali kekang unta. “Itu dia yang menarik unta.”

“Siapa yang di atas unta?”

“Itu pembantunya.”

Sang pendeta terkagum-kagum. “Ini sesuai dengan yang tertulis dalam Injil kami—seorang pemimpin yang adil akan datang bersama pembantunya.”

Ketika para panglima perang menyambut Umar dengan pakaian mewah dan kuda-kuda yang dihias indah, Umar justru mengambil batu dan melemparnya kepada mereka. “Allah telah membuka sedikit wilayah untukmu, lalu kalian sudah mengenakan pakaian mewah! Gantilah dengan pakaian biasa kalian!”

Detik-Detik Terakhir: Tetap Khawatir Meski Dijamin Surga

Pada hari-hari terakhir hidupnya, Umar sering berdoa: “Ya Allah, karuniakan aku mati syahid di jalan-Mu dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu.”

Putrinya Hafsah bertanya: “Ayah, bagaimana mungkin kedua hal itu terwujud? Madinah sangat aman, tidak mungkin diserang.”

“Allah akan mengaturnya jika Dia menghendaki,” jawab Umar dengan yakin.

Dan doa itu pun terkabul. Seorang budak Majusi bernama Abu Lu’lu’ah—yang dendam karena Umar tidak membelanya dalam urusan upah kerja—menyelinap ke masjid dan menusuk Umar dari belakang dengan pisau bermata dua saat beliau hendak memimpin salat Subuh.

Tusukan itu begitu dalam hingga menembus perutnya. Umar terjatuh, namun sempat berkata: “Aku dibunuh oleh anjing Majusi itu.”

Yang mengharukan, meski dalam kondisi kritis dengan luka tembus dari belakang ke depan perut, Umar masih sempat bangun untuk salat ketika mendengar azan. Ali bin Abi Thalib membisikkan di telinganya: “Salat, ya Amirul Mukminin! Salat!”

Umar terbangun dari pingsannya dan berkata: “Benar. Tidak ada Islam bagi orang yang tidak salat.” Lalu ia salat Subuh dalam keadaan duduk.

Ketika orang-orang memujinya dan memberikan kabar gembira tentang surga, Umar justru berkata: “Demi Allah, seandainya aku memiliki seluruh dunia dan isinya, akan kujadikan tebusan untuk menghadapi kengerian hari kiamat. Aku belum tahu apa yang akan Allah putuskan untukku.”

Bahkan di saat-saat terakhir menjelang wafat, ketika seorang pemuda datang memujinya, Umar masih sempat menasihati: “Wahai keponakanku, angkatlah pakaianmu! Itu lebih awet bagi pakaianmu dan lebih bertakwa kepada Tuhanmu”—karena celana pemuda itu menutupi mata kakinya.

Warisan Kepemimpinan yang Abadi

Umar bin Khattab wafat dalam keadaan syahid, dikuburkan di samping Rasulullah dan Abu Bakar—sebagaimana doanya. Kepala beliau diletakkan di atas tanah sebagai bentuk kerendahan hati terakhir di hadapan Allah.

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang kekuasaan atau kemewahan, melainkan tentang tanggung jawab, keadilan, kepedulian, dan senantiasa merasa takut kepada Allah meskipun telah dijamin surga.

Umar membuktikan bahwa seorang raja bisa memasak bubur untuk anak-anak kelaparan di tengah malam, seorang khalifah bisa membantu persalinan musafir asing tanpa publisitas, dan seorang pemimpin besar bisa tetap khawatir tentang pertanggungjawaban di hadapan Allah hingga nafas terakhirnya.

Inilah teladan yang mengubah hidup—teladan yang mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak diukur dari jabatan atau pujian manusia, melainkan dari ketulusan dalam beribadah dan melayani sesama.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________