Yukabat mengira ia sedang melepaskan anaknya ke ketidakpastian. Ia belum tahu bahwa arus Nil justru membawa Musa ke tempat paling tak terduga: istana Firaun.
Dari Sungai ke Istana
Di istana megah itu, peti kecil ditemukan oleh istri Firaun, Asiyah. Ketika peti dibuka, tampaklah seorang bayi yang begitu menawan. Hati Asiyah tersentuh. Ia berkata kepada Firaun:
“Ia penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita jadikan dia sebagai anak.”
(QS. Al-Qashash: 9)
Ironi sejarah pun terukir: bayi yang hendak dibunuh oleh kebijakan Firaun justru tumbuh besar di dalam istananya sendiri. Anak yang ingin dimusnahkan malah diasuh dalam kemewahan kerajaan.
Namun Musa menolak semua perempuan yang hendak menyusuinya. Di sinilah Allah menepati janji-Nya. Miriyam, yang sejak awal mengawasi dari jauh, mendekat dengan tenang dan menawarkan solusi:





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.