“Iya, Bu. Aku mengerti,” jawab Miriyam, walau kakinya gemetar. “Aku akan mengikutinya. Aku tidak akan pulang sebelum tahu Musa benar-benar aman.”
Di Tepi Sungai Nil
Di tepi Sungai Nil yang dingin, kabut tipis menggantung di atas air. Yukabat mencium Musa lama sekali, seolah ingin menghentikan waktu. Ia menatap wajah kecil itu, menghafalkan setiap lekuknya.
Dengan air mata yang tak lagi bisa dibendung, ia meletakkan peti itu ke permukaan air. Peti kecil itu bergerak perlahan, lalu menjauh, mengikuti arus sungai.
Setiap jengkal yang bertambah terasa seperti merobek hati seorang ibu.
Dari kejauhan, Miriyam mengikuti dengan diam-diam. Ia bersembunyi di balik semak ketika arus membawa peti itu ke tikungan. Matanya tak pernah lepas dari bayangan kecil yang terapung di atas air.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.