Perintah itu berat. Sangat berat. Meletakkan bayi ke sungai? Melepaskannya dari pelukan seorang ibu? Rasanya seperti menyerahkan buah hati kepada ketidakpastian.
“Ya Rabb, perintah-Mu berat bagi hati seorang ibu. Namun aku percaya penjagaan-Mu lebih luas daripada ketakutanku.”
Imanlah yang menegakkan langkahnya. Menjelang fajar, ketika kota masih diliputi kabut tipis, Yukabat menyiapkan sebuah peti sederhana. Anyamannya dirapatkan. Celah-celahnya dilapisi dengan sekuat tangan yang bergetar. Bukan peti mewah—hanya harapan yang dibentuk dengan air mata.
Ia memanggil putrinya, Miriyam.
“Dengarkan ibu baik-baik. Setelah peti ini dilepas, ikuti dari jauh. Jangan terlalu dekat. Jangan menoleh dengan gelisah. Mata mereka tajam, Nak. Satu gerak saja bisa membuat mereka curiga.”





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.