Perintah itu berat. Sangat berat. Meletakkan bayi ke sungai? Melepaskannya dari pelukan seorang ibu? Rasanya seperti menyerahkan buah hati kepada ketidakpastian.

“Ya Rabb, perintah-Mu berat bagi hati seorang ibu. Namun aku percaya penjagaan-Mu lebih luas daripada ketakutanku.”

Imanlah yang menegakkan langkahnya. Menjelang fajar, ketika kota masih diliputi kabut tipis, Yukabat menyiapkan sebuah peti sederhana. Anyamannya dirapatkan. Celah-celahnya dilapisi dengan sekuat tangan yang bergetar. Bukan peti mewah—hanya harapan yang dibentuk dengan air mata.

Ia memanggil putrinya, Miriyam.

“Dengarkan ibu baik-baik. Setelah peti ini dilepas, ikuti dari jauh. Jangan terlalu dekat. Jangan menoleh dengan gelisah. Mata mereka tajam, Nak. Satu gerak saja bisa membuat mereka curiga.”

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________