PUNGGAWANEWS, Mesir belum tidur, tetapi rumah-rumah Bani Israil telah lama kehilangan ketenangan. Sejak Firaun mengeluarkan perintah kejamnya—membunuh setiap bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil—malam tak lagi menjadi waktu istirahat. Ia berubah menjadi pengadilan sunyi yang menegangkan. Setiap keluarga menanti dengan cemas: siapa yang masih bisa menyambut fajar, dan siapa yang direnggut sebelum matahari terbit.

Di sebuah rumah kecil yang sederhana, seorang ibu bernama Yukabat memeluk bayinya erat-erat. Bayi itu masih mungil, lemah, dan belum mengerti dunia yang sedang memburunya. Namanya Musa.

Malam itu tak ada lagu pengantar tidur. Tak ada senandung lembut atau tawa kecil keluarga. Yang terdengar hanya doa lirih, napas yang ditahan, dan telinga yang siaga pada setiap bunyi di luar pintu.

“Tenang, anakku… jangan menangis. Tolong… jangan malam ini.”

Yukabat menenangkan Musa, lalu menenangkan dirinya sendiri. Ia tahu, satu tangis kecil saja bisa menjadi alamat maut. Dari ujung gang sempit, suara langkah prajurit terdengar mendekat. Semakin dekat. Ia merapat ke dinding, menutup Musa dengan kain tebal, menahan napas hingga dadanya terasa nyeri.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________