Summarize the post with AI
Namun mukjizat yang seharusnya melunakkan hati justru menyingkap kesombongan yang lebih dalam.
Bagi para pemuka kaum, keberadaan unta itu dianggap sebagai ancaman. Mereka tidak rela berbagi, tidak rela tunduk, dan tidak rela mengakui kebenaran. Hingga akhirnya, dalam sebuah malam gelap, mereka melakukan tindakan yang paling keji—membunuh unta tersebut.
Itulah titik tanpa kembali.
Nabi Saleh memperingatkan bahwa azab akan datang dalam tiga hari. Hari-hari itu berlalu dengan tanda-tanda yang mengerikan—wajah-wajah mereka berubah warna, ketakutan mulai menyebar, namun kesombongan tetap menguasai.
Hingga akhirnya, pada hari keempat, azab itu datang.
Satu teriakan dahsyat mengguncang langit dan bumi. Dalam sekejap, kehidupan berhenti. Kaum Tsamud mati bergelimpangan di dalam rumah-rumah batu yang mereka banggakan. Tidak ada perlawanan, tidak ada pelarian. Peradaban yang tampak abadi runtuh dalam hitungan detik.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.