Summarize the post with AI

Seratus Jiwa di Tengah Salju Abadi

Di antara ribuan penduduk Inuvik yang sebagian besar merupakan warga lokal turun-temurun serta pekerja sektor energi dan pemerintahan, terdapat sekitar 100 umat Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka datang dari Sudan, Lebanon, negara-negara Timur Tengah, Asia, hingga Afrika Utara, mencari peluang kerja dan kehidupan baru di wilayah yang sangat jauh dari tanah kelahiran mereka.

Meski terpisah ribuan kilometer dari rumah, satu hal yang tak pernah mereka tinggalkan adalah iman. Namun, menjalankan ibadah di wilayah dengan kondisi ekstrem seperti Inuvik bukanlah perkara mudah. Pola siang-malam yang tidak normal menciptakan tantangan tersendiri dalam menentukan waktu salat, puasa, dan ritual keagamaan lainnya.

Perjuangan Tanpa Rumah Ibadah

Selama bertahun-tahun, komunitas Muslim Inuvik harus menjalankan ibadah tanpa memiliki masjid sendiri. Untuk salat Jumat dan perayaan hari raya, mereka terpaksa bergantian meminjam rumah warga atau menggunakan gereja setempat—satu-satunya rumah ibadah yang ada di kota tersebut.

Keinginan untuk memiliki masjid permanen semakin menguat dari tahun ke tahun. Namun, bagi komunitas kecil ini, mewujudkan impian tersebut terasa hampir mustahil. Biaya pembangunan di kawasan Arktik bisa membengkak berlipat ganda karena material harus didatangkan dari kota-kota besar di selatan Kanada. Belum lagi tantangan cuaca ekstrem dan biaya transportasi yang sangat tinggi.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________