PUNGGAWANEWS, JAKARTA — Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung kembali menuai sorotan setelah mencatatkan kerugian yang terus membengkak. PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) melaporkan rugi Rp1,6 triliun pada semester I tahun 2025. Angka ini menambah deretan kerugian tahun sebelumnya yang mencapai Rp4,1 triliun pada 2024.

Akumulasi kerugian operasional tersebut membuat beban utang proyek strategis nasional ini melonjak menjadi Rp118 triliun. Kondisi ini memicu wacana dari Danantara, holding BUMN yang membawahi PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemegang saham mayoritas KCIC, untuk melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam penyelesaian utang.

Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa dengan tegas menolak usulan tersebut. Purbaya menegaskan bahwa tanggung jawab proyek sepenuhnya ada di tangan Danantara.

“Saya belum dihubungi soal ini. Yang jelas, ini kan di bawah Danantara. Mereka sudah punya manajemen sendiri, dividen sendiri yang rata-rata setahun bisa Rp80 triliun atau lebih. Harusnya mereka kelola dari situ. Jangan ke kita lagi,” ujar Purbaya.

Menteri Keuangan ini mengingatkan agar tidak terjadi praktik “kalau enak swasta, kalau susah pemerintah”. Menurutnya, pemisahan antara sektor swasta dan pemerintah harus konsisten, termasuk dalam pengelolaan dividen.

Penyesuaian Operasional

Di tengah tekanan keuangan, KCIC mengumumkan pengurangan frekuensi perjalanan dari 62 menjadi 56 perjalanan per hari. General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Khairunisa menyatakan penyesuaian ini dilakukan untuk memberikan waktu pemeliharaan yang lebih panjang dan menyeluruh demi menjaga keandalan serta keselamatan operasional.

Kereta cepat Whoosh yang melayani rute Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer dengan waktu tempuh 36-44 menit ini terus menghadapi tantangan okupansi. Pada 2024, tingkat hunian penumpang hanya mencapai 20 persen dari target, sementara di 2025 baru meningkat menjadi 30-40 persen.

Beban Kerugian Tersebar

PT KAI sebagai pemegang saham mayoritas turut menanggung dampak kerugian KCIC. Pada semester I 2025, PT KAI mencatat rugi Rp1,424 triliun akibat konsolidasi beban dari Whoosh. Total kerugian konsorsium selama 2024-2025 mendekati Rp6 triliun.

Sementara itu, beban bunga pinjaman mencapai Rp2 triliun per tahun, jauh melampaui pendapatan dari penjualan tiket yang bahkan tidak mencapai setengah dari beban bunga tersebut.

Opsi Restrukturisasi

Chief Operating Officer (COO) Danantara Doni Oscaria mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan beberapa opsi penyelesaian, salah satunya adalah pengalihan infrastruktur KCIC kepada pemerintah. Dengan skema ini, KCIC akan bertransformasi menjadi operator murni tanpa kepemilikan aset infrastruktur.

Konsekuensinya, utang infrastruktur senilai USD6,7 miliar atau sekitar Rp111,1 triliun akan beralih menjadi tanggung jawab pemerintah dan dibebankan ke APBN. Namun, opsi ini langsung ditolak oleh Kementerian Keuangan.

Jejak Permasalahan Sejak Awal

Proyek kereta cepat ini memang menyimpan catatan panjang masalah sejak tahap perencanaan. Pada akhir 2015, Presiden Joko Widodo memilih proposal China Railway dengan skema business to business (B2B) tanpa jaminan APBN, mengalahkan tawaran Jepang yang menawarkan skema government to government (G2G).

KCIC dibentuk pada 2016 dengan komposisi kepemilikan: China Railway International 40 persen dan konsorsium Indonesia 60 persen melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang terdiri dari PT KAI (58,53 persen), PT Wijaya Karya, PT Jasa Marga, dan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Pendanaan utama berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) sebesar USD4,5 miliar dengan bunga 3,5-4 persen per tahun. Proyek yang ditargetkan rampung 2019 dengan biaya USD5,5 miliar (Rp80 triliun) mengalami keterlambatan akibat kendala pembebasan lahan, desain, perizinan, dan pandemi Covid-19.

Pembengkakan biaya (cost overrun) terjadi bertahap dari USD5,5 miliar menjadi USD6,07 miliar, kemudian melonjak ke USD7,27 miliar atau Rp118 triliun. Kondisi ini memaksa pemerintah menyuntikkan Penyertaan Modal Negara (PMN) ke PT KAI sebesar Rp4,3 triliun pada 2021-2022, menandai keterlibatan APBN meski awalnya dijanjikan tanpa beban anggaran negara.

Kereta cepat Whoosh diresmikan Oktober 2023 dengan tarif promosi Rp250.000-Rp350.000 per penumpang dan target 31 juta penumpang per tahun. Namun, realisasi operasional jauh dari harapan dengan pendapatan tiket yang sangat rendah dibanding beban operasional dan bunga pinjaman.

Kini, Danantara dihadapkan pada tantangan berat untuk menyelesaikan persoalan rumit proyek yang dinilai lebih mengutamakan pertimbangan politis ketimbang kalkulasi ekonomi rasional.

Sumber

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________