Summarize the post with AI
Kisah Ottoman bukan untuk membuat kita menangisi kejayaan masa lalu. Ia hadir untuk mengingatkan kita bahwa peradaban Islam itu mungkin — dan bahwa keruntuhannya pun bisa berulang jika kita tidak belajar.
Mungkin bagian paling ironis dari sejarah ini adalah: kita terus mengagumi kejayaan Ottoman, membanggakannya di media sosial, membuat konten darinya — tanpa benar-benar belajar dari penyebab kejatuhannya.
Idul Fitri hari ini mengundang kita untuk berbeda. Untuk tidak sekadar merayakan, tapi berkomitmen:
1. Menjaga akhlak yang sudah diasah selama Ramadan.
2. Menolak kemewahan yang melalaikan dan kesombongan yang merusak.
3. Mempererat ukhuwah, bukan mempertebal sekat-sekat yang memecah.
4. Berkontribusi nyata bagi kebaikan komunitas, bangsa, dan umat.
تقبَّل الله منّا ومنكم، وجعلنا الله وإيّاكم من العائدين
Taqabbalallahu minna wa minkum, wa ja’alanallaahu wa iyyakum minal ‘aaidiina.
Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian, dan semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah).
Minal ‘Aidin wal Faizin — Selamat Idul Fitri 1447 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.