Summarize the post with AI
Jika ditarik ke akarnya, masalahnya adalah ketidaksinkronan antara produk dengan pesan. Pisau cukur digunakan dalam ruang yang sangat personal, dalam rutinitas sederhana dan netral. Selama puluhan tahun, Gillette hadir sebagai alat yang bisa diandalkan tanpa banyak bicara.
Ketika suara merek berubah menjadi normatif dan mengomentari perilaku penggunanya, hubungan itu pun ikut berubah. Bagi sebagian orang, rasa nyaman dalam rutinitas harian jadi terganggu.
Di saat yang sama, para disruptor tetap konsisten berbicara soal harga yang masuk akal, kemudahan, dan fungsi yang cukup. Perbedaan arah inilah yang membuat respons Gillette gagal menghentikan laju disrupsi.
Tiga Pelajaran Berharga
Pertama, disrupsi tidak datang dari teknologi paling canggih, tetapi dari pemahaman paling sederhana. Gillette kalah bukan karena pisaunya buruk, tetapi karena lupa satu hal: bagi banyak orang, mencukur adalah rutinitas biasa. Ketika harga terasa tidak lagi masuk akal, loyalitas puluhan tahun bisa runtuh dalam sekejap.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.