PUNGGAWANEWS, Kisah ini dimulai dari perjalanan Nabi Uzair yang melelahkan. Setelah menempuh jarak yang jauh, beliau tiba di sebuah perkampungan yang sudah hancur total. Karena lelah, Uzair beristirahat di tempat yang teduh, membawa bekal roti dan anggur. Setelah menikmati bekalnya, pandangannya tertuju pada reruntuhan rumah dan tulang belulang yang berserakan di mana-mana.
Pemandangan kehancuran yang dahsyat itu menimbulkan pertanyaan mendalam dalam hati Uzair, sebuah gumaman yang penuh kekaguman dan rasa ingin tahu:
“Bagaimana ya Allah dapat menghidupkan kembali kota ini setelah kehancurannya?”
Pertanyaan ini, yang muncul dari pengamatan Uzair terhadap Tanda-tanda Kekuasaan Allah SWT ,seketika menjadi ujian keyakinan. Saat itulah, Allah SWT mewafatkan Nabi Uzair.
Bukti Nyata Kekuasaan Allah: Tidur Selama 100 Tahun
Uzair diwafatkan oleh Allah selama 100 tahun. Setelah genap seratus tahun, Allah mengutus malaikat untuk mengembalikan nyawanya. Ketika terbangun, Uzair ditanya oleh malaikat:
“Berapa lama kamu tertidur di sini wahai Uzair?”
Uzair menjawab dengan perkiraan yang wajar: “Mungkin sehari atau setengah hari.” Jawaban ini menunjukkan bahwa Allah mampu menghilangkan persepsi waktu dari hamba-Nya.
Malaikat kemudian menjelaskan kenyataan yang menakjubkan: “Sebenarnya kamu telah tertidur di sini selama 100 tahun.”
Untuk menghilangkan keraguan dalam hati Uzair, Allah menunjukkan dua mukjizat sekaligus:
- Makanan yang Tetap Utuh: Malaikat menyuruh Uzair melihat bekalnya. Ajaib, makanan (roti dan perasan anggur) itu masih utuh seperti semula, tidak rusak sedikit pun walau telah 100 tahun berlalu. Ini adalah bukti nyata Allah Maha Menjaga.
- Keledai yang Dihidupkan Kembali: Ketika Uzair masih tampak ragu, malaikat menyuruhnya melihat keledainya, yang saat itu telah menjadi tulang-belulang. Di hadapan Uzair, malaikat kemudian menghidupkan kembali keledai itu secara sempurna . Ini adalah bukti bahwa Allah Maha Menghidupkan (Al-Muhyi) yang sudah mati.
Melihat mukjizat yang luar biasa ini, Uzair pun berseru penuh keyakinan: “Sekarang aku benar-benar yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Ketika kembali ke kotanya, Uzair mendapati segalanya telah berubah total. Orang-orang tidak mengenalnya, dan ia pun asing dengan lingkungannya. Setelah mencari-cari, ia menemukan rumahnya dan bertemu dengan seorang nenek tua yang dulunya adalah budak keluarganya, kini dalam keadaan buta dan lumpuh.
Setelah meyakinkan nenek tersebut bahwa ia adalah Uzair yang diwafatkan selama 100 tahun, nenek tersebut meminta Uzair berdoa. Uzair dikenal sebagai orang yang doanya mustajab. Dengan izin Allah, melalui doa Nabi Uzair, wanita tua itu:
- Dapat melihat kembali.
- Dapat berjalan kembali.
Peristiwa ini menjadi tanda awal kembalinya Uzair. Untuk meyakinkan seluruh Bani Israil yang meragukan, seorang lelaki tua, yang mengaku sebagai anak Uzair, meminta bukti: Uzair memiliki tanda hitam di antara kedua pundaknya. Uzair memperlihatkan tanda itu, dan barulah semua orang yakin.
Uzair dan Pemeliharaan Taurat
Pada masa itu, kitab Taurat telah hilang karena dibakar musuh. Mengingat Nabi Uzair adalah seorang penghafal Taurat yang ulung, penduduk meminta bantuannya.
“Wahai Nabi Allah, kami tahu hanya Engkaulah yang bisa menghafalnya.”
Dengan izin Allah, Uzair mengingat seluruh isi Taurat dan mulai mendiktekan kitab suci itu kepada mereka. Ini adalah anugerah besar dari Allah untuk mengembalikan petunjuk bagi kaumnya.
Penegasan Tauhid dan Peringatan
Sayangnya, karena peristiwa yang luar biasa ini — dibangkitkan setelah 100 tahun dan menghafal Taurat kembali — sebagian orang Yahudi berbuat kesalahan besar. Mereka menyebut Uzair sebagai anak Allah (
Klaim ini adalah bentuk kesyirikan yang jelas-jelas bertentangan dengan tauhid. Allah menegaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 259 bahwa Nabi Uzair hanyalah seorang hamba Allah yang dijadikan sebagai tanda kekuasaan-Nya bagi manusia.
اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَاۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًاۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗۙ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٥٩
au kalladzî marra ‘alâ qaryatiw wa hiya khâwiyatun ‘alâ ‘urûsyihâ, qâla annâ yuḫyî hâdzihillâhu ba‘da mautihâ, fa amâtahullâhu mi’ata ‘âmin tsumma ba‘atsah, qâla kam labitst, qâla labitstu yauman au ba‘dla yaûm, qâla bal labitsta mi’ata ‘âmin fandhur ilâ tha‘âmika wa syarâbika lam yatasannah, wandhur ilâ ḫimârik, wa linaj‘alaka âyatal lin-nâsi wandhur ilal-‘idhâmi kaifa nunsyizuhâ tsumma naksûhâ laḫmâ, fa lammâ tabayyana lahû qâla a‘lamu annallâha ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Atau, seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh menutupi (reruntuhan) atap-atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah kehancurannya?” Lalu, Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (kembali). Dia (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Sebenarnya engkau telah tinggal selama seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, (tetapi) lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang) dan Kami akan menjadikanmu sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging (sehingga hidup kembali).” Maka, ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Aku mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Penutup dan Ibrah (Pelajaran)
Kisah Nabi Uzair mengajarkan kita tentang Dua Pilar Utama Keimanan:
- Kemahakuasaan Allah atas Kehidupan dan Kematian ($Al-Qadir$): Allah mampu mematikan dan menghidupkan kembali, bahkan setelah seratus tahun. Ini adalah penegasan tentang kebenaran Hari Kebangkitan ($Yaumul Ba’ats$) dan Hari Pembalasan.
- Kekuasaan Allah atas Waktu dan Benda ($Al-Hafiz$): Allah mampu menjaga makanan tetap utuh tanpa terpengaruh waktu, dan menghidupkan kembali tulang-belulang. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
Semoga kita selalu mengambil pelajaran dari kisah-kisah para Nabi, dan senantiasa menegakkan tauhid yang murni.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.