Allahumma shalli wasallim ‘ala ‘abdika wa rasulika sayyidina wa maulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.
Perkembangan teknologi yang diciptakan manusia dari tahun ke tahun semakin memudahkan kehidupan. Saat ini, hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi tanpa harus keluar rumah. Makanan cukup dipesan melalui ponsel, belanja dapat dilakukan lintas kota bahkan lintas pulau hanya dengan satu klik. Komunikasi pun semakin mudah dan cepat.
Kemudahan ini sekilas tampak membawa kegembiraan. Namun pertanyaannya, apakah semua itu benar-benar menghadirkan kebahagiaan?
Jika kita melihat data global—bahkan sekadar mengetikkan di mesin pencari seperti Google—jumlah gangguan kesehatan mental terus meningkat hingga lebih dari satu miliar manusia. Ini menunjukkan bahwa fasilitas modern tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan hati.
Di sinilah penting memahami perbedaan antara kegembiraan dan kebahagiaan.
Perbedaan Kegembiraan dan Kebahagiaan
Kegembiraan bersifat sementara. Misalnya ketika seseorang membeli mobil baru, ia merasa senang beberapa hari atau beberapa bulan. Namun setelah itu rasa tersebut berkurang.
Adapun kebahagiaan bersifat lebih dalam dan menetap karena letaknya di hati.
Kebahagiaan tidak selalu bergantung pada materi. Bahkan seseorang yang hidup sederhana bisa merasakan ketenangan hati. Contohnya kisah Yusuf yang justru merasakan ketenangan ketika berada dalam penjara karena terjaga dari fitnah dunia.
Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan bukan berada pada fasilitas, tetapi pada kondisi hati.
Hati: Pusat Kebahagiaan Manusia
Rasulullah Muhammad menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging; jika ia baik maka seluruh tubuh menjadi baik, dan jika ia rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak. Itulah hati.
Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hati adalah pusat pengaruh spiritual manusia. Bahkan disebutkan dalam riwayat tentang Isa bahwa setan menggoda manusia melalui hati.
Semua manusia memiliki hati—baik kaya, miskin, pejabat maupun rakyat biasa. Maka yang menentukan kebahagiaan bukan kondisi luar, tetapi bagaimana seseorang mengelola hatinya.
Tanda-Tanda Kebahagiaan Seorang Mukmin
Para ulama menjelaskan ada tiga tanda utama kebahagiaan seorang mukmin:
1. Bersyukur Ketika Mendapat Nikmat
Nikmat Allah sangat banyak, namun manusia sering menganggap nikmat hanya sebatas harta. Padahal nikmat terbesar setelah iman adalah kesehatan dan keamanan.
Kita melihat bagaimana saudara-saudara kita di Gaza Strip hidup dalam kondisi tidak aman. Dari situ kita belajar bahwa rasa aman adalah nikmat besar yang sering dilupakan.
Allah juga mengingatkan bahwa nikmat iman adalah nikmat tertinggi.
Kisah seorang ulama sufi Ibrahim bin Adham mengajarkan bahwa orang yang benar-benar bersyukur tidak hanya menikmati nikmat untuk dirinya, tetapi juga berbagi kepada orang lain.
2. Bersabar Ketika Mendapat Musibah
Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Allah pasti menguji manusia dengan berbagai bentuk ujian: rasa takut, kekurangan harta, kehilangan orang tercinta, dan sebagainya.
Sikap manusia ketika menghadapi musibah ada beberapa tingkatan:
- Marah (terlarang)
- Sabar (wajib)
- Ridha (lebih tinggi)
- Syukur (tingkatan tertinggi)
Contoh ujian besar dialami oleh istri Rasulullah, Aisyah binti Abu Bakar, yang difitnah dengan tuduhan berat. Fitnah itu juga menyangkut kehormatan ayahnya, Abu Bakar. Namun dengan kesabaran, Allah menurunkan pembelaan melalui wahyu.
Inilah bukti bahwa kesabaran akan berbuah kebaikan.
3. Istighfar Ketika Berbuat Dosa
Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa. Bahkan para nabi pun segera bertobat ketika melakukan kesalahan.
Musa langsung memohon ampun setelah melakukan kesalahan.
Adam juga bertobat tanpa menyalahkan siapa pun.
Kesalahan terbesar manusia bukanlah dosa itu sendiri, tetapi ketika merasa tidak berdosa.
Karena itu Rasulullah Muhammad—yang telah dijamin ampunannya—tetap beristighfar lebih dari 70 kali setiap hari.
Syukur yang Benar: Hati, Lisan, dan Perbuatan
Syukur memiliki tiga unsur:
1. Syukur dengan hati
Mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan semata karena usaha pribadi. Kisah Qarun menjadi pelajaran ketika ia merasa kekayaannya berasal dari ilmunya sendiri.
Sebaliknya, Sulaiman mengakui semua karunia berasal dari Allah.
2. Syukur dengan lisan
Mengucapkan Alhamdulillah dalam berbagai keadaan.
3. Syukur dengan perbuatan
Menggunakan nikmat untuk ketaatan, bukan untuk maksiat.
Jangan Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Salah satu penyebab hilangnya kebahagiaan adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Rasulullah pernah berpesan kepada sahabatnya Abu Dzar al-Ghifari agar melihat kepada orang yang berada di bawah, bukan yang di atas, agar hati tetap bersyukur.
Perbandingan yang berlebihan membuat seseorang lupa pada nikmat yang sudah dimiliki.
Memahami Takdir Membuat Hati Tenang
Ada kisah seorang peneliti dari Prancis yang tinggal bersama kabilah Muslim di Afrika selama beberapa tahun. Ia melihat bagaimana mereka menghadapi musibah dengan ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un tanpa keluhan berlebihan.
Ketika memahami konsep takdir, ia mengaku tidak lagi membutuhkan obat penenang.
Ini menunjukkan bahwa iman memiliki kekuatan besar dalam menjaga kesehatan mental manusia.
Penutup
Kemajuan teknologi tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati berada pada hati yang:
- Bersyukur ketika mendapat nikmat
- Bersabar ketika mendapat ujian
- Beristighfar ketika melakukan dosa
Jika tiga hal ini dijaga, maka seseorang akan merasakan ketenangan hidup dalam kondisi apa pun.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur, sabar dalam ujian, dan selalu kembali kepada-Nya dalam taubat.
Wallahu a’lam bish-shawab.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.