PUNGGAWANEWS – Dalam sebuah kajian hadis terbaru, para ulama kembali menekankan pentingnya menjaga kekhusyukan selama khutbah Jumat berlangsung. Berdasarkan hadis ke-360 dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat jelas mengenai konsekuensi berbicara saat khatib sedang menyampaikan khutbah.

Hadis Pokok dan Maknanya

Dalam riwayat yang disampaikan Imam Ahmad dengan sanad yang dapat diterima, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang berbicara pada hari Jumat sementara Imam sedang berkhutbah, maka dia seperti keledai yang membawa buku-buku.”

Perumpamaan ini memberikan gambaran yang kuat tentang kondisi seseorang yang tidak memperhatikan khutbah. Sebagaimana keledai yang memikul kitab-kitab di punggungnya namun tidak dapat memahami isi kandungannya, demikian pula orang yang berbicara saat khutbah – meskipun berada di tempat yang penuh ilmu dan hikmah, namun tidak memperoleh manfaat apapun.

Hadis Pendukung dari Bukhari-Muslim

Untuk memperkuat pemahaman ini, terdapat hadis shahih dalam riwayat Bukhari nomor 916 dan Muslim nomor 583 dari Abu Hurairah radhiallahu anhu. Hadis tersebut menyatakan: “Apabila kamu berkata kepada temanmu ‘Diamlah’ pada hari Jumat sementara Imam sedang khutbah, sungguh kamu telah berbuat hal yang sia-sia.”

Hadis ini memberikan penjelasan tambahan bahwa bahkan menegur orang lain untuk diam pun dapat menghilangkan pahala khusus hari Jumat, meskipun niatnya baik.

Makna Spiritual Khutbah Jumat

Para ulama menjelaskan bahwa khutbah Jumat memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Khutbah diibaratkan sebagai “makanan rohani” yang memberikan nutrisi bagi jiwa, sebagaimana tubuh memerlukan makanan fisik. Selama 40 menit hingga satu jam mendengarkan khutbah, jamaah mendapatkan bekal spiritual untuk menghadapi tantangan selama 23 jam ke depan dalam seminggu.

Ketika iman tertanam kuat dalam hati melalui ilmu yang disampaikan dalam khutbah, seluruh aspek kehidupan akan berubah menjadi lebih baik – lebih sabar, tabah, dan bersyukur dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup.

Konsep Pahala Bertingkat

Islam mengajarkan sistem pahala bertingkat untuk kehadiran di shalat Jumat:

  • Tingkat Pertama: Seperti bersedekah seekor unta (bagi yang datang paling awal)
  • Tingkat Kedua: Seperti bersedekah seekor sapi
  • Tingkat Ketiga: Seperti bersedekah seekor kambing
  • Tingkat Keempat: Seperti bersedekah seekor ayam
  • Tingkat Kelima: Seperti bersedekah sebutir telur (bagi yang datang sesaat sebelum khatib naik mimbar)

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu pasti untuk mendapatkan masing-masing tingkat pahala. Sebagian berpendapat bahwa untuk mendapatkan pahala unta, seseorang harus hadir sejak setelah shalat Subuh. Namun pendapat lain menyatakan bahwa Allah dengan rahmat-Nya tidak menentukan waktu yang kaku, sehingga memungkinkan seseorang mendapat pahala maksimal meskipun datang beberapa saat sebelum khutbah dimulai.

Klarifikasi Penting: Sah vs Pahala

Yang perlu dipahami dengan jelas adalah perbedaan antara keabsahan shalat Jumat dengan perolehan pahala tambahan. Seseorang yang berbicara saat khutbah atau menegur orang lain untuk diam akan kehilangan pahala tambahan hari Jumat, namun shalat Jumatnya tetap sah selama memenuhi syarat-syarat pokok.

Hadis yang menyatakan “tidak ada Jumat baginya” tidak bermakna batalnya kewajiban atau sahnya shalat Jumat, melainkan hilangnya kesempatan meraih pahala ekstra yang telah Allah sediakan untuk hari istimewa tersebut.

Etika yang Dianjurkan

Para ulama memberikan panduan praktis untuk memaksimalkan manfaat hari Jumat:

  1. Datang lebih awal untuk mendapatkan pahala bertingkat
  2. Membaca Surah Al-Kahfi sambil menunggu khutbah
  3. Memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW
  4. Niat yang benar sejak dari rumah untuk mendengarkan khutbah dengan khusyuk
  5. Menghindari percakapan setelah khatib naik ke mimbar

Peran Pengurus Masjid dan Khatib

Kajian ini juga menekankan peran penting pengurus masjid dalam memberikan pengumuman sebelum khutbah dimulai, sehingga jamaah dapat mempersiapkan diri dengan baik. Adapun khatib memiliki kewenangan untuk menegur jamaah yang mengganggu, sebagaimana pernah dilakukan Rasulullah SAW ketika menegur sahabat yang terlambat datang untuk melaksanakan shalat tahiyatul masjid terlebih dahulu.

Pesan Penutup

Pemahaman yang benar terhadap hadis-hadis ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas ibadah umat Muslim, khususnya dalam menjaga kekhusyukan shalat Jumat. Yang terpenting adalah tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat mengurangi semangat beribadah, melainkan justru meningkatkan kesadaran akan pentingnya memanfaatkan momentum spiritual hari Jumat dengan sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________