Summarize the post with AI
Lalu turunlah ayat yang mengguncang hati para sahabat:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) hingga kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)
Banyak yang mendengar ayat itu lalu mengangguk setuju, namun tetap erat memegang dompet. Abu Thalhah berbeda. Tanpa berpikir panjang, ia mendatangi Rasulullah dan menyatakan: “Ya Rasulullah, sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha’. Aku sedekahkan semuanya karena Allah, semoga menjadi simpanan di sisi-Nya.”
Rasulullah bersabda, “Bakh bakh! Itu adalah harta yang menguntungkan. Aku berpendapat sebaiknya kamu bagikan kepada kerabat-kerabatmu.”
Abu Thalhah melaksanakannya dengan segera. Kebun itu dibagikan kepada keluarga dan kerabat, termasuk penyair Hasan bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum.
Tidak ada konferensi pers. Tidak ada spanduk raksasa. Tidak ada stempel “Donasi dari Abu Thalhah” di setiap pohon kurma. Yang ada hanyalah keikhlasan murni yang dicatat oleh Allah di Lauhul Mahfudz.
Riwayat ini tercatat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, serta dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.