Summarize the post with AI
Anas bin Malik meriwayatkan, Abu Thalhah berkata kepada Nabi, “Diriku adalah tebusan untukmu, ya Rasulullah. Wajahku adalah tameng bagi wajahmu.” Bahkan ketika Nabi mencoba mengintip posisi musuh, Abu Thalhah langsung memperingatkan, “Jangan, ya Rasulullah! Leherku tameng untuk lehermu.”
Rasulullah SAW memuji: suara Abu Thalhah di medan perang setara dengan seratus pasukan. Satu sosok, satu semangat, satu kesetiaan—namun dampaknya menyamai satu batalion.
Sedekah Tanpa Spanduk: Kebun Bairuha’ yang Hilang demi Allah
Namun ujian terbesar Abu Thalhah bukan di medan perang yang penuh darah dan debu, melainkan di kebun yang teduh dan subur.
Abu Thalhah memiliki banyak harta, namun yang paling ia cintai adalah kebun Bairuha’—sebuah perkebunan kurma yang sangat produktif. Airnya jernih, buahnya melimpah, lokasinya strategis tepat di depan Masjid Nabawi. Rasulullah bahkan kerap singgah untuk meminum air sumur di kebun itu. Nilai ekonominya tinggi, nilai emosionalnya jauh lebih dalam.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.