Summarize the post with AI
Secara kumulatif, harga minyak Brent telah melonjak hingga 59 persen sepanjang bulan ini saja, menjadikannya kenaikan bulanan paling ekstrem yang pernah tercatat dalam sejarah pasar minyak modern, melampaui lonjakan yang terjadi saat Perang Teluk pada 1990. Pemicu utama lonjakan ini adalah terganggunya Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Konflik yang mulai meletup pada 28 Februari silam melalui serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran kini telah merambat jauh melampaui kawasan Teluk Persia. Keterlibatan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Teheran dalam menyerang Israel memunculkan kekhawatiran baru atas keselamatan jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab, Laut Merah, dan Selat Bab el-Mandeb.
Para analis JP Morgan, sebagaimana dikutip Arab News, mengingatkan bahwa konflik ini tidak lagi terbatas pada Teluk Persia dan Selat Hormuz semata, melainkan sudah menjalar ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb, salah satu titik penyempitan paling krusial bagi aliran minyak mentah dan produk olahan ke seluruh penjuru dunia.
Data dari lembaga pelacak kargo energi Kpler menunjukkan, ekspor minyak Arab Saudi yang dialihkan melalui jalur darat menuju pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah telah mencapai 4,658 juta barel per hari pada pekan lalu. Apabila jalur alternatif ini pun ikut terganggu akibat perluasan konflik, Arab Saudi diperkirakan terpaksa mengalihkan pasokan melalui pipa Suez-Mediterania yang dikelola Mesir, sebuah opsi yang memiliki kapasitas terbatas dan biaya lebih tinggi.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.