Summarize the post with AI
Dalam jangka panjang, Wijayanto menekankan bahwa konsumsi domestik akan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini. Komponen lain dinilai belum mampu mengambil peran besar: investasi cenderung bergerak mendatar, ruang fiskal pemerintah terbatas, sementara kinerja ekspor diperkirakan tidak akan mengalami lonjakan berarti. Beberapa sektor yang diprediksi mampu menjadi motor penggerak antara lain perdagangan, keuangan, pertambangan dan hilirisasi, makanan dan minuman, kesehatan, telekomunikasi, serta ritel.
Di sisi pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi revisi proyeksi Bank Dunia tersebut dengan nada yang lebih tenang. Menurutnya, langkah penyesuaian ke bawah yang dilakukan berbagai lembaga internasional merupakan respons wajar terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik yang memengaruhi hampir seluruh kawasan di dunia. Ia mengingatkan bahwa proyeksi 4,7 persen untuk Indonesia sejatinya masih jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang berada di kisaran 3,4 persen, sehingga posisi Indonesia tetap relatif menggembirakan dibandingkan banyak negara lain.
Airlangga pun menantikan rilis data kuartal pertama 2026 sebagai tolok ukur nyata kondisi perekonomian nasional saat ini, sembari menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia masih berada di jalur yang cukup baik.
Bank Dunia sendiri dalam laporannya menyebut bahwa perlambatan yang diproyeksikan terutama dipicu oleh tekanan eksternal, khususnya kenaikan harga minyak mentah global dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar keuangan internasional. Meski demikian, lembaga tersebut mengakui Indonesia masih memiliki sejumlah penyangga ekonomi yang dapat meredam tekanan jangka pendek, di antaranya ekspor komoditas unggulan dan berbagai inisiatif investasi yang tengah didorong pemerintah.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.