Summarize the post with AI
Satu-satunya kapal yang tetap meneruskan perjalanan adalah Mombasa B. Kapal tersebut berhasil melewati koridor antara Pulau Larak dan Pulau Qeshm, yakni rute yang memang telah mendapat restu dari pihak Iran untuk digunakan memasuki Teluk Persia. Meski demikian, tujuan akhir kapal itu hingga kini belum dapat dipastikan dari data navigasi yang tersedia.
Yang menjadi tanda tanya besar adalah alasan konkret di balik pembatalan dua kapal tersebut, mengingat baik Irak maupun Pakistan sebelumnya telah mengantongi izin resmi dari Iran untuk melintasi selat itu. Keputusan putar balik yang mendadak ini tampaknya erat kaitannya dengan dinamika perundingan yang memburuk secara tiba-tiba, meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak mana pun.
Selat Hormuz telah praktis terkunci bagi lalu lintas pelayaran internasional sejak AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran sekitar enam pekan lalu. Dampaknya terhadap rantai pasokan energi global tergolong belum pernah terjadi sebelumnya. Pembukaan kembali jalur strategis ini sempat menjadi salah satu agenda inti dalam perundingan akhir pekan lalu, namun justru menjadi batu sandungan yang tak terpecahkan hingga perundingan bubar tanpa hasil.
Pola serupa sebenarnya telah berulang dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah kapal mencoba peruntungan menembus selat ini namun urung melanjutkan perjalanan karena perhitungan risiko yang terus berubah. Dua kapal kontainer berbendera China sempat berbalik arah di penghujung bulan lalu sebelum akhirnya berhasil keluar, sedangkan sebuah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) memilih mundur pada pekan lalu.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.