Summarize the post with AI

Madinah Berduka, Abu Bakar Berdiri Teguh

Kabar wafatnya Rasulullah SAW mengguncang Madinah. Umar bin Khattab menolak mempercayainya, menghunus pedang sambil berteriak bahwa Nabi masih hidup. Ali bin Abi Thalib berdiri membatu, matanya penuh air mata. Utsman terdiam. Seluruh kota larut dalam duka yang tak terbendung.

Di tengah kekacauan itu, Abu Bakar tampil sebagai gunung yang teguh. Ia masuk ke kamar Rasulullah, mencium kening sang Nabi, lalu keluar dan menukil firman Allah bahwa Muhammad hanyalah seorang utusan yang juga akan pergi, dan bahwa Allah adalah Dzat yang hidup dan tidak akan pernah mati. Satu kalimat itu menenangkan ribuan hati yang hancur.

Keesokan harinya, tibalah waktu Zuhur. Bilal bin Rabah, muazin setia Rasulullah SAW, naik untuk mengumandangkan azan sebagaimana biasa. Namun ketika ia sampai pada kalimat syahadat — “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” — tenggorokannya tercekat. Suaranya bergetar dan pecah. Ia tidak mampu melanjutkan. Seluruh Madinah menangis bersamanya. Bilal akhirnya menyatakan tidak sanggup lagi mengumandangkan azan di kota yang setiap sudutnya mengingatkannya kepada Rasulullah. Beberapa tahun kemudian, ia pergi ke Syam.

Warisan yang Tak Ternilai

Jenazah Rasulullah SAW dimandikan oleh Ali bin Abi Thalib. Saat proses pemandian berlangsung, semerbak wangi kasturi yang belum pernah tercium sebelumnya tersebar di ruangan. Atas keputusan Abu Bakar, beliau dikebumikan di kamar Aisyah, di tempat beliau wafat.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________