Summarize the post with AI
Tiga Belas Hari Terakhir
Kembali dari haji, pada tahun ke-11 Hijriah, Rasulullah SAW jatuh sakit dengan demam yang semakin hari semakin parah. Dalam kondisi lemah itu, beliau masih memikirkan umatnya. Ketika Malaikat Jibril bertanya mengapa beliau menangis, jawabnya hanya satu: “Umatku, wahai Jibril. Aku khawatir tentang mereka.”
Di hari-hari itu pula, beliau meminta Abu Bakar memimpin shalat — sebuah isyarat kepemimpinan yang tak terucap secara eksplisit namun dipahami oleh para sahabat. Beliau juga memanggil putri kesayangannya, Fatimah, dan membisikkan dua hal kepadanya. Yang pertama membuat Fatimah menangis — bahwa sang ayah akan segera pergi. Yang kedua membuatnya tersenyum — bahwa di antara keluarga, Fatimahlah yang pertama akan menyusulnya. Dan memang demikianlah yang terjadi. Enam bulan setelah wafatnya Rasulullah SAW, Fatimah pun menyusul sang ayah tercinta.
Senin Pagi yang Mengubah Dunia
Hari itu adalah hari Senin. Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, dan pada hari Senin pula beliau meninggalkan dunia. Pagi itu, melalui jendela kamarnya, untuk terakhir kalinya beliau menyaksikan para sahabat berdiri bahu-membahu dalam shaf shalat Subuh yang dipimpin Abu Bakar. Wajahnya memancarkan kebahagiaan melihat mereka — orang-orang yang telah ia didik dari kegelapan Jahiliyah menuju cahaya iman.
Lalu dengan bibir yang hanya bergerak pelan, beliau mengulang dua kalimat: “Ya Tuhan, jadikan aku bersama Ar-Rafiq Al-A’la” — mohon dipertemukan dengan Sahabat Yang Maha Tinggi — dan “Shalat… shalat…” seolah wasiat terakhir agar umatnya tidak meninggalkan tiang agama itu. Kemudian, dalam usia 63 tahun, Rasulullah SAW menutup mata untuk selamanya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.