- Bangkit dari Reruntuhan dengan Mesin Bekas
- Ekspansi Global: Dari Asia hingga Amerika
- Masuk Indonesia: Dari Importir hingga Produsen Lokal
- Strategi Jitu: Merambah hingga Warung Tradisional
- Strategi Multi-Brand untuk Berbagai Segmen
- Ilustrasi Ikonik yang Tak Lekang Waktu
- Performa Finansial yang Solid
- Pelajaran Bisnis dari Kongguan
Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS – Siapa sangka, biskuit dalam kaleng merah yang selalu hadir di meja tamu saat Lebaran itu dibangun dari mesin-mesin bekas yang hampir tak layak pakai? Kongguan, merek biskuit yang kini identik dengan perayaan Idul Fitri di Indonesia, memiliki perjalanan panjang penuh perjuangan sejak lahir di Singapura 78 tahun lalu.
Berdasarkan survei terkini, sekitar 27 persen masyarakat Indonesia membeli biskuit khusus untuk momen Lebaran. Dalam daftar tersebut, Kongguan hampir selalu menduduki posisi teratas sebagai pilihan utama keluarga Indonesia.
Berawal dari Pengungsi Perang Dunia II
Kisah Kongguan dimulai pada 1947 di Singapura, didirikan oleh dua bersaudara imigran asal Fujian, TiongkokโChu Chu Keng dan Chu Chuhan. Sebelum membangun kerajaan bisnis mereka sendiri, kedua kakak-beradik ini hanyalah pekerja biasa di pabrik biskuit milik Tan Kahki di Singapura.
“Di pabrik itulah mereka mempelajari seluk-beluk produksi, distribusi, hingga mekanisme operasional bisnis makanan,” ungkap penelusuran historis perusahaan.
Namun takdir berkata lain. Ketika Perang Dunia II meletus dan Jepang menduduki Singapura, situasi berubah drastis. Kedua bersaudara ini terpaksa mengungsi ke Perak, Malaysia. Dalam kondisi perang yang mencekam, mereka mengalami kesulitan luar biasa mendapatkan bahan baku seperti gula dan tepung.
Untuk bertahan hidup, mereka harus beralih profesiโberjualan garam laut dan bahkan membuat sabun sendiri. Kondisi sulit ini justru menempa karakter mereka sebagai wirausahawan yang tangguh dan adaptif.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.