PUNGGAWANEWS, Di Indonesia beras adalah bahan makanan wajib di banyak rumah, tapi justru jadi salah satu pos belanja yang paling susah diajak kompromi. Orang sering mengira mahalnya beras cuma urusan cuaca, banjir, atau musim yang lagi aneh. Padahal, ada cerita yang lebih panjang dan lebih dasar. Biaya bikin berasnya memang dari sananya sudah mahal.
Berdasarkan informasi dari LPEM FEB UI (Working Paper 089, Januari 2026), biaya produksi padi Indonesia jauh lebih tinggi dibanding Vietnam, Thailand, China, India, dan Filipina. LPEM memakai ukuran pembanding bernama ECCI. Anggap saja ECCI ini seperti angka perbandingan biaya produksi antar negara, supaya bisa terlihat siapa yang lebih hemat dan siapa yang lebih boros. Vietnam dijadikan patokan nilai 100, lalu Indonesia berada di angka 414. Artinya, biaya produksi padi Indonesia kira-kira lebih banyak 4 kali dari Vietnam dalam hitungan yang disetarakan. Jadi ini bukan beda tipis, tapi beda jauh.
Nah yang sering keliru, banyak orang mengira kalau panen ditingkatkan, otomatis biaya jadi lebih ringan dan harga bisa turun. Dalam temuan LPEM, hasilnya tidak sesederhana itu. Setelah perbedaan hasil panen dibetulkan dalam perhitungan pun, Indonesia tetap jadi yang paling berat biayanya. Jadi problemnya bukan hanya soal panen naik atau turun, tapi ada sumber mahal yang sudah menempel di sistem produksi kita.
Sumber mahal itu paling besar datang dari dua hal, tenaga kerja dan sewa lahan. Masih dari LPEM, dua komponen ini menyumbang hampir 80% dari biaya produksi. Jadi kalau mau merapikan biaya produksi, tidak bisa cuma fokus pupuk, benih, atau subsidi. Dua raksasa biaya ini harus disentuh.
Soal tenaga kerja, masalahnya bukan sekadar upah. Yang bikin mahal adalah karena sawah padi kita butuh terlalu banyak orang dan terlalu banyak hari kerja untuk luas lahan yang sama. LPEM menunjukkan, untuk tiap hektar, Indonesia memakai sekitar 190 hari-orang per tahun. Bandingkan dengan Vietnam sekitar 64, China sekitar 55, dan Thailand sekitar 21. Artinya, di banyak tahap, pekerjaan di sawah Indonesia masih sangat mengandalkan tenaga manusia, sementara negara lain sudah lebih hemat tenaga karena alat, cara kerja, dan tata kelolanya lebih rapi.
Efeknya terasa di produktivitas tenaga kerja. Kalau dibayangkan sederhana, satu orang kerja sehari bisa menghasilkan berapa kilo gabah. Di Indonesia sekitar 64 kg per hari-orang, sementara Vietnam mendekati 400 kg, Thailand bahkan bisa lebih dari 500 kg. Jadi bukan berarti petani Indonesia malas atau tidak becus. Bukan itu. Masalahnya lebih ke sistem kerja yang membuat banyak pekerjaan masih dikerjakan manual, lahannya kecil-kecil, alat tidak selalu mudah diakses, dan prosesnya jadi lebih lama serta lebih mahal.
Lalu ada biaya yang sering tidak terlihat tapi beratnya sama, yaitu sewa lahan. Dalam hitungan LPEM, biaya sewa lahan per kilogram hasil panen di Indonesia sekitar 4-5 kali Vietnam. Kenapa lahan bisa semahal itu? Salah satu penyebab besarnya ada di wilayah padat seperti Pulau Jawa. Penduduknya banyak, kota makin melebar, kebutuhan tanah untuk perumahan dan usaha naik terus, akhirnya tanah pertanian ikut terdorong jadi aset mahal. Di situ sawah diminta tetap menghasilkan beras, tapi biaya lahannya sudah naik duluan.
Di luar Jawa, lahan memang bisa lebih murah. Tapi keunggulan itu sering ketutup karena masalah lain. Irigasi tidak selalu kuat, jalan dan fasilitas pendukung kurang, kualitas tanah tidak merata, sehingga hasil panen tidak otomatis tinggi. Jadinya lahan murah, tapi hasilnya belum maksimal, sehingga biaya per kilogram tetap berat.
Masalah semakin rumit karena lahan pertanian banyak yang terpecah-pecah. Petak kecil, berpencar, dan banyak sewa yang sifatnya tidak panjang. Kalau sewa pendek dan tidak pasti, orang jadi ragu untuk investasi yang memerlukan banyak waktu. Perlu memperbaiki tanah, memperbagus saluran air, atau pakai alat yang butuh penyesuaian. Akhirnya, cara kerja bertahan di pola lama, tetap padat tenaga kerja, tetap banyak hari kerja, dan tetap mahal.
Ada juga efek samping dari aturan dan situasi pasar. Kalau harga beras lokal dipertahankan lebih tinggi, itu kadang membuat lahan ikut naik pamor, karena ada harapan keuntungan yang lebih besar. Harapan keuntungan itu bisa ikut mendorong sewa lahan naik. Ujungnya, biaya produksi makin tinggi, lalu produsen makin sulit menjual murah. Ini seperti lingkaran, biaya tinggi bikin harga tinggi, harga tinggi bikin lahan makin mahal, lahan mahal bikin biaya makin tinggi lagi.
Jadi, kalau ditanya perbaikan mendesak apa yang perlu dilakukan, jawabannya harus berangkat dari dua sumber mahal tadi, tenaga kerja yang boros hari kerja dan sewa lahan yang terlalu mahal. Kalau dua ini tidak disentuh, perbaikan lain sering cuma terasa sebentar dampaknya.
Yang paling mendesak pertama adalah membuat kerja di sawah lebih hemat tenaga dan waktu, bukan dengan cara mengurangi orang begitu saja, tapi dengan membuat pekerjaan jadi lebih efisien. Caranya lewat alat dan layanan yang benar-benar jalan. Alat tanam, alat panen, pengeringan, penggilingan, plus dukungan operator, bengkel, suku cadang, dan sistem sewa alat yang gampang. Intinya, bukan sekadar alat turun, foto-foto, selesai. Ekosistemnya yang penting.
Kedua, mekanisasi harus dibarengi lapangan kerja lain yang masuk akal di sekitar desa. Karena kalau alat masuk tapi tidak ada pilihan kerja lain, yang terjadi bisa jadi kegaduhan sosial. Maka perlu dorongan industri ringan, pengolahan pangan, jasa logistik, dan pekerjaan dengan pendapatan menengah agar perpindahan tenaga kerja dari pertanian terjadi bertahap dan manusiawi.
Ketiga, soal lahan perlu dibenahi lewat pengelolaan lahan yang lebih rapi. Bisa lewat konsolidasi lahan (pengelolaan bareng supaya operasionalnya seperti lahan besar), memperjelas kepastian hak guna, dan menahan konversi sawah yang sifatnya spekulatif. Kalau lahan lebih nyambung, tidak terlalu kecil-kecil maka alat lebih mudah masuk, kerja lebih efisien, biaya turun.
Keempat, memperkuat irigasi dan infrastruktur dasar, terutama di luar Jawa, supaya lahan yang lebih murah benar-benar punya hasil yang bagus. Jalan usaha tani, saluran air, fasilitas pengeringan, gudang, sampai penggilingan itu kelihatannya teknis, tapi dampaknya langsung ke biaya per kilogram.
Kelima, bereskan bagian yang sering luput, pascapanen. Banyak hasil panen yang kualitasnya turun atau hilang karena pengeringan tidak optimal, penyimpanan kurang, dan penggilingan yang belum merata bagus. Kalau kehilangan dan penurunan kualitas bisa ditekan, biaya produksi per kilogram beras yang jadi bisa ikut turun.
Ringkasnya, yang paling mendesak itu bukan sekadar menyuruh panen naik, tapi membersihkan sumber mahalnya lebih dulu. Kerja sawah dibuat lebih efisien, lahan dibuat lebih rapi dan lebih pasti, lalu infrastruktur dan pascapanen dibereskan supaya hasil yang sudah diproduksi tidak bocor di tengah jalan. Kalau itu jalan bareng, baru cerita beras murah bukan sekadar harapan musiman.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.