Namun perlahan, tantangan muncul. Keluarga-keluarga mulai pindah, sumber pendanaan menyusut, dan impian membangun desa Muslim sepenuhnya di Amerika mulai memudar. Pada awal 1990-an, proyek ini mengalami gesekan internal. Meski tak pernah sepenuhnya mencapai cita-cita awalnya, Dar Al-Islam tetap bertahan sebagai pusat pendidikan dan spiritual.
Pusat Pembelajaran dan Refleksi
Hingga hari ini, Dar Al-Islam masih aktif menyelenggarakan pengajian, kemah keagamaan, dan program pendidikan bagi Muslim serta masyarakat umum. Peserta datang untuk berbagai pengalaman—mulai dari refleksi pribadi dalam keheningan gurun hingga pembelajaran terstruktur tentang ajaran dan budaya Islam.
Pendekatan yang diusung bersifat spiritual-alamiah, mengajak pengunjung mendekatkan diri kepada Tuhan melalui kontemplasi dan interaksi dengan alam. Program-program keluarga dikombinasikan dengan kegiatan luar ruang seperti pendakian di formasi batu pasir putih Plaza Blanca, lokakarya bersama ulama tamu, serta kegiatan khusus bagi generasi muda. Semua dirancang untuk menumbuhkan iman dan memperkuat ikatan keluarga.
Islam di Amerika: Identitas yang Hidup
Kisah Dar Al-Islam tidak dapat dilepaskan dari sejarah Islam di Amerika Serikat. Islam bukanlah agama baru di benua ini. Sejak awal, Muslim telah hadir—sebagian datang sebagai budak Afrika yang mempertahankan iman mereka secara tersembunyi, sementara yang lain bermigrasi secara bebas pada abad-abad berikutnya. Kini, lebih dari 3,5 juta Muslim hidup di seluruh Amerika Serikat.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.