Komunitas di Antara Dua Dunia

Penduduk Dar Al-Islam berasal dari latar belakang yang beragam: mualaf Amerika, imigran Muslim, keluarga muda, hingga anak-anak yang tumbuh di antara dua dunia—tradisi Islam dan realitas kehidupan Amerika. Pada masa kejayaannya, kawasan ini mencakup lahan sekitar 8.600 hektare, terdiri dari pegunungan, masjid, sekolah, rumah-rumah tanah liat, serta ladang dan kebun.

Menariknya, keberadaan Dar Al-Islam hampir tak diketahui oleh sebagian besar masyarakat Amerika, bahkan oleh banyak Muslim sendiri. Komunitas ini didirikan pada 1979 oleh Nuruddin Durkee, seorang mualaf Amerika, bersama Syekh Abul Hasan Ali Nadwi? (ops—transkrip menyebut Sah Kabani, pengusaha Saudi) dan Abdullah Omar Nasseef, mantan Sekretaris Jenderal Liga Dunia Muslim. Pembangunannya melibatkan tangan-tangan penduduk asli Amerika, komunitas Pueblo, serta Muslim dari Mesir, Nubia, dan Eropa.

Para pendiri membayangkan sebuah tempat unik: ruang bagi Muslim Barat untuk membesarkan anak-anak mereka, mempelajari agama, dan menjalani hidup sederhana tanpa harus meninggalkan negaranya. Dar Al-Islam sejak awal tidak dimaksudkan sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai desa Islam yang utuh—lengkap dengan rumah tinggal, madrasah, kebun, dan pertanian.

Dari Impian Besar ke Ketahanan Sunyi

Selama bertahun-tahun, visi tersebut sempat terwujud. Keluarga-keluarga menetap, para ulama datang dari berbagai belahan dunia, dan kegiatan pendidikan berkembang pesat. Pada puncaknya, lembaga ini mendidik sekitar 60 siswa dengan tujuh guru penuh waktu serta beberapa pengajar paruh waktu.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________