Hingga menit ini, gelombang manusia terus berdatangan di halaman DPRD Pati. Di balik tembok gedung, para wakil rakyat kompak mengeluarkan kartu truf: Hak Angket. Nasib Sudewo kini bergantung pada seutas benang. Hanya campur tangan dari istana yang mungkin bisa menariknya dari jurang kehancuran. Ikuti kisah terkini dari bumi Pati sambil meneguk secangkir kopi pahit, sobat.

Horizon Pati masih berbalut semburat merah. Mentari bersandar di ujung dunia, namun cahayanya terasa hambar. Seperti saksi bisu yang menatap jenuh pertunjukan politik yang berkepanjangan. Aspal-aspal kota berubah mendidih, bukan karena magma bumi, tapi oleh arus massa yang melangkah bagaikan irama perang. Mereka hadir dengan sorak-sorai, kain-kain bertulisan, dan murka yang sudah tak sanggup dibungkam lagi dengan manis bibir.

Di pusaran kerumunan itu, kabar segar berseliweran: DPRD Pati bersepakat mengerahkan Hak Angket. Inilah amunisi terakhir parlemen lokal. Biasanya keluar hanya ketika situasi sudah sangat pekat dan tak ada jalan lain. Sementara itu, sang pemimpin daerah, Sudewo, yang sempat dikabarkan akan mengundurkan diri, justru bersikukuh mempertahankan posisinya. Ibarat nahkoda yang bersumpah akan tetap di kemudi walau bahteranya sudah miring dan perlengkapan darurat sudah dijarah awaknya sendiri.

Massa tak lagi ambil pusing dengan kekerasan kepala Sudewo. Mereka justru semakin berkobar. Di lapangan tengah kota, campuran debu, keringat, dan bau solar dari kendaraan yang terbakar menyeruak ke hidung siapa pun yang berada di sana. Beberapa petugas keamanan yang semula bersiaga malah berubah menjadi pihak yang perlu diamankan. Pemandangan janggal tersaji di mana-mana. Ada petugas yang berlari tergopoh-gopoh dikejar massa, ada yang berteduh di balik warung kaki lima, ada yang kehilangan alas kaki, dan ada yang menatap horror karena dilempari botol mineral yang terasa seperti bom moral.

Gas air mata yang ditembakkan justru menambah dramatis situasi. Seorang pengunjuk rasa ambruk di pinggir jalan, napasnya terengah-engah, wajahnya memucat. Rekan-rekannya dengan sigap mengangkutnya sambil berteriak, “Butuh oksigen! Cari oksigen!” dan entah darimana, sebuah tabung oksigen tiba-tiba muncul, seperti sulap di panggung sirkus. Mereka memasangkan masker tabung itu ke wajahnya, sementara di sekelilingnya asap gas air mata terus mengepul seperti kabut dari neraka.

Peristiwa ini bukan semata aksi protes, melainkan seperti bab penutup dari saga rakyat yang sudah kehabisan kesabaran. Setiap kerikil yang dilemparkan, setiap roda yang dibakar, adalah syair kemarahan yang ditulis dengan tinta keringat. Mereka tidak peduli lagi siapa yang berdiri di hadapan, selama lambang kekuasaan itu masih tegak, mereka akan terus menyerang.

Di panggung politik, Hak Angket DPRD menjadi proyektil yang dibidikkan ke singgasana bupati. Namun di luar gedung itu, di jalan-jalan berdebu, rakyat sudah memiliki dialek tersendiri: dialek lemparan, dialek pembakaran, dialek teriakan parau yang menohok telinga siapa saja yang merasa kebal kritik. Ketika sang Bupati dari partai Gerindra ini menyatakan menolak mundur, suara lapangan membalas dengan nada yang tak bisa dibungkam lagi: “Kami juga menolak untuk berdiam diri!”

Dari teras-teras toko yang tutup, warga menyaksikan dari kejauhan. Ada yang mengangkat gawai, ada yang hanya menggeleng pasrah, seolah berkata: “Inilah wajah Pati hari ini. Panggung absurd di mana dalang dan penonton sama-sama lelah.” Langit semakin memerah, bukan karena senja yang memesona, melainkan pantulan kobaran api dari ban-ban yang dibakar. Entah esok atau lusa, apakah sandiwara ini akan berakhir dengan aplaus, tangis, atau hanya kesunyian. Yang pasti, drama ini sudah menjadi bagian dari kronik besar suara rakyat yang tak pernah usai ditulis.

Di tengah kepulan asap, lemparan, dan pekikan itu, Pak Warung di sudut jalan hanya tersenyum sambil mengaduk gula yang susah larut, kemudian berkata lirih: “Kekuasaan itu ibarat kopi mendidih, kalau diminum terburu-buru bisa membakar lidah. Kalau dibiarkan kelamaan bisa mendingin dan tengik. Maka seorang pemimpin harus paham kapan harus menyeruput, kapan harus meniup, dan kapan harus meletakkan gelasnya supaya orang lain juga bisa merasakan hangatnya.”

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________