PUNGGAWANEWS — Suasana Ramadhan tidak selalu identik dengan keramaian seperti di Indonesia. Di berbagai negara, terutama yang umat Islamnya minoritas atau memiliki tradisi lokal yang kuat, Ramadhan hadir dengan warna yang berbeda dan kebiasaan yang jarang diketahui.

Berikut beberapa cerita unik Ramadhan dari berbagai kawasan dunia.

Ramadhan di Jepang: Komunitas Kecil, Kebersamaan Besar

Di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, Ramadhan tetap berjalan khidmat melalui komunitas kecil yang solid. Di Tokyo, masjid dan pusat komunitas Islam sering menjadi tempat berkumpulnya Muslim dari berbagai negara.

Hal unik yang jarang diketahui:

  • Banyak restoran halal hanya buka menjelang waktu berbuka.
  • Muslim di Jepang sering membawa bekal sendiri untuk sahur karena sulit menemukan makanan halal 24 jam.
  • Iftar internasional menjadi tradisi khas, karena jamaah berasal dari berbagai negara.

Ramadhan di Jepang juga dikenal sangat tertib, mengikuti budaya disiplin masyarakat setempat.

Ramadhan di Korea Selatan: Puasa di Tengah Ritme Kerja Cepat

Di Seoul, umat Islam menjalankan puasa di tengah budaya kerja yang sangat cepat dan kompetitif.

Beberapa kebiasaan unik:

  • Banyak mahasiswa Muslim berbuka puasa bersama di area kampus.
  • Masjid menjadi pusat distribusi makanan gratis bagi pekerja migran.
  • Menu buka puasa sering memadukan makanan Korea seperti sup hangat dengan hidangan Timur Tengah.

Komunitas Muslim di Korea juga aktif memperkenalkan budaya Ramadhan kepada masyarakat lokal melalui festival kecil.

Ramadhan di Eropa: Puasa Panjang dan Tantangan Musim

Di beberapa negara Eropa Barat seperti Prancis dan Inggris, durasi puasa bisa mencapai 16–19 jam saat musim panas.

Kota seperti Paris dan London memiliki tradisi unik:

  • Masjid mengadakan “Open Iftar” yang mengundang warga non-Muslim.
  • Banyak supermarket menyediakan paket makanan khusus Ramadhan.
  • Komunitas Muslim berbuka di ruang publik seperti taman kota.

Ramadhan di Eropa juga menjadi momen dialog antaragama yang cukup kuat.

Ramadhan di Maroko: Tradisi Keluarga yang Sangat Kental

Di Afrika Utara, Ramadhan justru menjadi salah satu perayaan budaya terbesar. Di kota Marrakech, suasana malam Ramadhan sangat hidup.

Kebiasaan unik yang jarang diketahui:

  • Meriam tradisional masih digunakan sebagai penanda waktu berbuka.
  • Hidangan khas seperti harira hampir selalu hadir setiap hari.
  • Aktivitas sosial justru meningkat setelah tengah malam.

Ramadhan di Maroko terkenal karena keseimbangan antara ibadah, kuliner, dan tradisi keluarga.

Ramadhan: Satu Ibadah, Banyak Warna Budaya

Perbedaan budaya membuat Ramadhan di setiap negara memiliki karakter tersendiri. Di negara minoritas Muslim, Ramadhan menjadi simbol solidaritas komunitas. Sementara di negara mayoritas Muslim, Ramadhan berkembang menjadi tradisi sosial yang meriah.

Meski berbeda suasana, esensi Ramadhan tetap sama: memperkuat spiritualitas, kebersamaan, dan kepedulian sosial lintas budaya di seluruh dunia.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________