Menurut pandangannya, pemahaman terhadap pergerakan benda-benda langit merupakan kebutuhan fundamental umat manusia (ḍarūrata ma’rifatih bi al-awqāt), tidak hanya untuk melaksanakan kewajiban ritual keagamaan (liyu’addiya mafrūḍātih al-dīniyyah), tetapi juga untuk mengatur aktivitas kehidupan sehari-hari (wa yaqūma bi wājibāti ma’āsyih al-dunyawiyyah).
Sang cendekiawan juga menekankan signifikansi pencatatan sejarah bagi keberlanjutan peradaban. Ia mencatat bahwa setiap bangsa memiliki kerinduan alamiah untuk melestarikan warisan sejarah nenek moyang mereka (tasyrru’bu al-a’nāq… ilā ḥifẓi tārīkh al-salaf al-awwal).
Mukhtar Pasha mengamati bahwa karya-karya terdahulu justru kerap menimbulkan kerancuan akibat inkonsistensi metodologi. Hal ini mendorongnya untuk mengembangkan sistem penanggalan (taqwīm) yang lebih terstruktur dan akurat melalui pendekatan penelitian yang teliti (manhaj al-taḥarrī al-qawīm). Ambisi besarnya adalah menyusun proyeksi kalender hingga tahun 1500 Hijriah.
Ketepatan Prediksi yang Mencengangkan
Bagian paling memukau dari naskah ini terdapat pada halaman 764, khususnya tabel untuk tahun 1447 Hijriah. Muhammad Mukhtar Pasha mencantumkan konversi waktu dengan tingkat detail yang luar biasa.
Dalam catatannya, Mukhtar Pasha menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H akan jatuh pada hari Rabu (al-Arbi’ā’), bertepatan dengan 18 Februari 2026 Masehi (18 Fibrāyir). Tidak hanya itu, ia juga memproyeksikan awal Syawal 1447 H—atau yang dikenal sebagai Idul Fitri—akan jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026 Masehi (20 Māris).





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.