Kajian Subuh – Disarikan dari ceramah Ustadz Adi Hidayat

PUNGGAWANEWS, Ramadhan adalah bulan istimewa yang selalu dinanti kaum beriman. Namun, Al-Qur’an memberikan isyarat penting bahwa Ramadhan tidak datang begitu saja tanpa persiapan. Bahkan, perintah puasa Ramadhan tidak diturunkan di bulan Ramadhan, melainkan di bulan Sya’ban, tepatnya pada tahun ke-2 Hijriyah. Ini menjadi pesan kuat bahwa menyambut Ramadhan membutuhkan kesiapan iman dan amal.

Melalui Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT mengawali perintah puasa dengan seruan iman:

“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām…”

Seruan ini bukan sekadar panggilan biasa, melainkan ajakan reflektif untuk mengecek kondisi iman kita: apakah sedang lemah, sedang, atau kuat.

Makna Seruan “Yā Ayyuhalladzīna Āmanū”

Dalam Al-Qur’an, kata “yā” adalah huruf panggilan yang unik. Ia dapat digunakan untuk memanggil yang dekat, sedang, maupun jauh. Artinya, ketika Allah menggunakan kata ini, tidak ada satu pun orang beriman yang dikecualikan.

Frasa “alladzīna āmanū” mencakup seluruh orang yang mengaku beriman—tanpa memandang usia, jenis kelamin, status sosial, atau kedudukan. Maka ketika Allah memanggil dengan seruan ini, sesungguhnya Allah sedang:

  1. Memanggil seluruh orang beriman tanpa kecuali
  2. Sekaligus mengklasifikasikan kondisi iman mereka

Tiga Kondisi Iman Manusia

Dari seruan iman tersebut, dapat dipahami bahwa kondisi iman manusia terbagi menjadi tiga:

  1. Iman kuat – Mereka yang bahkan sebelum Ramadhan datang, sudah siap menyambutnya dengan amal dan persiapan ruhiyah.
  2. Iman sedang – Iman yang stabil, tidak lemah namun belum optimal.
  3. Iman lemah – Iman yang masih jauh dari kesiapan, namun masih memiliki potensi besar untuk bangkit.

Kabar gembiranya, Ramadhan hadir untuk mengangkat seluruh tingkatan iman tersebut. Yang lemah bisa naik, yang sedang dikuatkan, dan yang kuat didekatkan lebih intim kepada Allah SWT.

Standar Mengecek Iman: Surah Al-Anfal Ayat 2

Allah memberikan standar jelas untuk menilai iman seseorang:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka…” (QS. Al-Anfal: 2)

Tanda pertama iman adalah getaran hati ketika nama Allah disebut. Getaran ini berbeda dengan rasa takut karena manusia atau kondisi duniawi. Getaran iman bersumber dari kesadaran ruhani yang hidup.

Nama Allah disebut sepanjang hari:

  • Dalam adzan
  • Dalam shalat
  • Dalam dzikir pagi dan petang
  • Dalam setiap pergantian waktu

Pertanyaannya: apakah hati kita masih bergetar saat nama Allah disebut?

Shalat sebagai Cermin Kualitas Iman

Al-Qur’an berkali-kali memasangkan iman dengan shalat. Bahkan, shalat disebut sebagai manifestasi iman.

Allah berfirman:

“Peliharalah semua shalatmu…” (QS. Al-Baqarah: 238)

Cara sederhana mengecek iman adalah dengan melihat hubungan kita dengan shalat, khususnya shalat Subuh:

  • Iman tinggi: sudah bersiap sebelum waktu shalat tiba
  • Iman standar: datang tepat saat adzan atau iqamah
  • Iman lemah: baru sadar setelah waktu hampir habis

Semakin cepat dan siap kita menyambut panggilan shalat, semakin tinggi kualitas iman kita.

Ramadhan: Momentum Kenaikan Iman

Keistimewaan Ramadhan adalah kemampuannya mengangkat iman siapa pun—bahkan yang paling lemah sekalipun. Di bulan ini:

  • Orang yang jarang ke masjid bisa datang ke masjid
  • Orang yang jarang membaca Al-Qur’an bisa tadarus
  • Orang yang jarang shalat sunnah menjadi semangat beribadah

Inilah keindahan Ramadhan: ia merangkul seluruh pemilik iman.

Namun, manfaat Ramadhan akan maksimal bagi mereka yang bersiap sejak Sya’ban.

Teladan Rasulullah ﷺ di Bulan Sya’ban

Dalam hadits riwayat An-Nasa’i dan Al-Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. Bahkan, Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan hampir seluruh Sya’ban beliau isi dengan puasa.

Padahal Rasulullah ﷺ adalah manusia yang:

  • Dijamin surga
  • Dipuji akhlaknya oleh Allah
  • Diampuni dosa-dosanya

Namun tetap mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.

Maka, sungguh ironis jika kita yang penuh kekurangan justru tidak melakukan persiapan apa pun.

Penutup

Malam dan hari ini adalah momen refleksi:

  • Di level mana iman kita saat ini?
  • Sudahkah kita mempersiapkan diri menyambut Ramadhan?

Mari jadikan bulan Sya’ban sebagai bulan tarhib—bulan pemanasan ruhani—agar ketika Ramadhan tiba, kita benar-benar siap menyambutnya dengan iman terbaik.

Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan iman yang meningkat dan hati yang hidup. Aamiin.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________