Sesuai arahan Menteri Pertanian, Bulog telah menyiapkan alokasi ekspor sekitar 1 juta ton. Namun, mayoritas produksi tetap difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, mengingat stabilitas harga dan ketersediaan pangan menjadi prioritas utama pemerintah.

“Ekspor itu penting, tapi kebutuhan rakyat kita lebih penting. Jadi kami pastikan dulu kebutuhan domestik terpenuhi, baru sisanya bisa kita ekspor,” ujar Rizal.

Hingga awal Januari 2026, Bulog mengelola 3,25 juta ton stok cadangan beras pemerintah. Stok ini merupakan peralihan dari sisa cadangan pada tahun 2025, yang menunjukkan bahwa pemerintah memiliki buffer stock yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional.

Dengan stok yang cukup besar ini, pemerintah memiliki ruang untuk melakukan ekspor tanpa mengganggu pasokan domestik, sekaligus membantu petani dalam negeri mendapatkan harga yang lebih baik melalui mekanisme penyerapan yang optimal.

Swasembada: Dari Impor ke Ekspor

Pencapaian swasembada beras dan jagung ini merupakan capaian penting bagi Indonesia, yang selama bertahun-tahun bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik. Kini, dengan surplus produksi, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga berpotensi menjadi eksportir pangan di kawasan regional maupun global.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________