Summarize the post with AI

Namun satu episode gelap dalam hidupnya tidak bisa dilewati begitu saja. Ketika khalifah Utsman bin Affan dibunuh secara keji oleh para pemberontak dan darahnya menetes di atas mushaf Al-Quran yang sedang dibacanya, Aisyah yang sedang di Mekah menunaikan haji merasakan hati nuraninya sebagai seorang ibu berteriak menuntut keadilan.

Bersama Thalhah dan Zubair dua sahabat yang dijamin masuk surga, ia bergerak ke Basrah dengan niat islah dan menuntut hukum ditegakkan, bukan untuk memerangi Ali bin Abi Thalib. Namun para penyusup yang justru merupakan pembunuh Utsman dan ketakutan jika terjadi perdamaian, memancing perang di kegelapan malam. Pecahlah Perang Jamal, perang yang namanya diambil dari unta yang ditunggangi Aisyah di tengah pertempuran.

Dari dalam tandu berlapis baja, Aisyah berteriak sekeras-kerasnya meminta semua pihak berhenti, namun suaranya tenggelam oleh dentingan pedang. Ketika unta itu akhirnya dilumpuhkan atas perintah Ali dan perang pun usai, Ali mendatangi tandu Aisyah bukan dengan arogansi pemenang, melainkan dengan rasa hormat seorang anak kepada ibunya. Ia bahkan berjalan kaki menemani kepulangan Aisyah beberapa mil keluar dari Basrah sambil menegaskan kepada pasukannya bahwa Aisyah adalah istri Nabi di dunia dan di akhirat.

Aisyah kembali ke Madinah, namun ia bukan lagi orang yang sama. Setiap kali membaca ayat Al-Quran tentang perintah bagi para istri Nabi untuk menetap di rumah, ia menangis hingga kerudungnya basah kuyup. Ia menyesali langkahnya itu seumur hidup. Dari penyesalan inilah ia menarik diri sepenuhnya dari politik dan mendedikasikan sisa hidupnya murni untuk ilmu, ibadah, dan mendidik umat.



Follow Widget