Summarize the post with AI

Rasulullah memilih rumah Aisyah. Di kamar sempit itulah, Aisyah menjadi perawat tunggal bagi orang yang paling ia cintai di dunia. Ia membacakan ayat-ayat perlindungan, meniupkannya ke tangan Nabi dan mengusapkannya ke tubuh beliau karena ia tahu tangan Rasulullah jauh lebih diberkahi daripada tangannya.

Pada pagi hari tanggal 12 Rabi’ul Awwal itu, Aisyah melunak siwak dengan air liurnya sendiri lalu memberikannya kepada Rasulullah yang bersiwak dengan penuh semangat seolah sedang bersiap menghadap Raja Diraja. Sesaat kemudian, kepala mulia itu terkulai bersandar di antara dagu dan dada Aisyah.

Ia mendekatkan telinganya dan mendengar kalimat terakhir dari bibir suaminya, sebuah permohonan kepada Allah untuk dipertemukan dengan teman yang paling tinggi, kalimat yang diulang tiga kali sebelum tangan itu terkulai jatuh dan napas itu berhenti selamanya. Gadis berusia 18 tahun itu kini menjadi janda, kehilangan sosok ayah, suami, guru, dan nabinya dalam satu waktu.

Setelah kepergian Rasulullah, Aisyah tidak tenggelam dalam duka yang melumpuhkan. Ia bangkit menjadi penjaga warisan terbesar Islam. Selama empat puluh tahun setelah wafatnya Nabi, rumah kecilnya menjelma menjadi universitas Islam pertama. Orang-orang berdatangan dari Kufah, Basrah, Syam, hingga Mesir hanya untuk mendengar suara dari balik tabir itu. Diperkirakan ia meriwayatkan sekitar 2.210 hadis. Tanpa hadis-hadis itu, separuh wajah Islam akan hilang dari pengetahuan umat.



Follow Widget