Summarize the post with AI

Langit tidak diam. Allah yang Maha Mendengar tidak membiarkan hamba-Nya yang suci itu teraniaya. Jibril turun membawa wahyu tepat di ruangan itu juga, sebelum Rasulullah sempat beranjak pergi. Sepuluh ayat dalam Surah An-Nur, ayat 11 hingga 21, turun sebagai pembelaan abadi dari langit, yang akan terus dibaca oleh umat manusia hingga hari kiamat.

Ketika Rasulullah mengangkat wajahnya setelah menerima wahyu, kalimat pertama yang keluar dari bibirnya adalah kabar gembira untuk Aisyah bahwa Allah telah membebaskannya dari segala tuduhan. Ibunya segera menyuruh Aisyah berterima kasih kepada Rasulullah, namun Aisyah dengan penuh kebanggaan dan keyakinan menjawab bahwa ia hanya akan memuji Allah, Dialah yang menurunkan kesuciannya.

Selama sembilan tahun hidup berdampingan dengan Rasulullah, Aisyah menyerap ilmu bagai lautan yang tak pernah penuh. Ia menghafal ribuan hadis, memahami sebab turunnya ayat, menguasai ilmu waris, sejarah Arab, syair-syair kuno, bahkan ilmu pengobatan. Keponakannya, Urwah bin Zubair, pernah berkata takjub bahwa tidak pernah ada orang yang melampaui Aisyah dalam penguasaan fikih, pengobatan, dan syair sekaligus. Para sahabat besar pun mengetuk pintunya ketika menemui jalan buntu dalam masalah hukum, dan dari balik tabir itu mengalirlah jawaban yang mencerahkan.

Lalu datanglah momen yang paling menyayat hati. Tahun ke-11 Hijriah, Rasulullah jatuh sakit dengan demam yang begitu tinggi. Dalam kondisi lemah itu, beliau terus bertanya dengan gelisah tentang giliran siapa besok ia akan dirawat. Para istri yang mulia menangkap isyarat itu dan mengizinkan Nabi dirawat di mana pun yang paling menenangkan hatinya.



Follow Widget